Adorasi
(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Doa
“Tuhan Yesus, aku hadir di hadapan-Mu untuk menyembah Allah Bapa.
Kasih yang meluap dari Hati-Mu yang Mahakudus menyempurnakan kekurangan
dan kelemahanku agar aku pantas menyembah Dia.
Bersihkanlah noda dalam hatiku karena pikiran,
perkataan dan tingkah lakuku yang jahat.
Saya yakin kesempurnaan-Mu akan menutupi ketidaksempurnaanku!” Amin.
Pengajaran
Pengantar
Semua orang yang sedang menghadapi kesulitan pasti akan mencari bantuan. Mereka itu membutuhkan pertolongan agar bisa mengatasi kesulitan hidupnya. Itulah naluri manusia! Tuhan kita Yesus Kristus menginginkan agar kita menyadari hal itu dan kita diminta untuk datang memohon bantuan kepadaNya. Dia bersabda, “di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Hal ini dialami oleh St Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil 4:13).
Kalau mengandalkan kekuatan diri sendiri, kita akan gagal, sebaliknya dalam Yesus kita menjadi kuat dan mampu! Dialah yang memampukan kita mengatasi setiap kesulitan hidup. St Ignasius berkata, “Tuhan kita Yesus Kristus selalu menggenapi setiap kekurangan kita!”
Dalam Adorasi kita akan mengalami bahwa Dialah andalan Ilahi bagi kita! Dalam kasanah liturgi, Adorasi berarti ibadat penyembahan kepada Sakramen Mahakudus yang ditakhtakan dalam Monstrans. Dalam kasanah spiritualitas, Adorasi berarti mental menyembah Allah Bapa. Dua hal tersebut tidak bertentangan – bisa disatukan dan saling memperkaya.
Kristus adalah Andalan Ilahi Bagiku
Muder Marie de Sales Chappuis menyebut Yesus sebagai Andalan Ilahi bagi hidupnya, “Tuhan Yesus, Engkau adalah andalan Ilahi bagiku! Di mata Allah, kita ini miskin tetapi di dalam Dia, kita kaya. Ketika saya menyadari dan mengakui kelemahanku, saat itu pula aku menyadari kepenuhan Ilahi tercurah dalam diriku. Dia sungguh andalanku!” Pengalaman ini sudah diungkapkan oleh St Paulus, “Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah!” (2Kor 3:5).
Bagaimana Tuhan Yesus mencurahkan kekuatanNya kepada kita? Pertama melalui komuni suci yang kita terima. Komuni suci adalah makanan jiwa. Makanan itu memperkuat hidup kita. Tetapi Tuhan kita yang mahabaik, tidak puas hanya dengan menjadi makanan jiwa dalam komuni suci.
Ia ingin menarik kita secara lebih dalam lagi. Ia ingin menenggelamkan kita ke dalam samudera kasih IlahiNya. Selain Komuni Suci, Ia membangun ikatan satu lagi antara jiwa dan diriNya – ini bentuk komuni yang lain. Itulah adorasi!
Ia merindukan kita selalu ber-adorasi; membangun mental bahwa kita membutuhkan Dia – membutuhkan bantuan-Nya, kekuatan dan perlindungan-Nya. Semua itu untuk menyempurnakan semua tugas dan perutusan kita. Ia tidak menginginkan kita terpisah dari Diri-Nya dalam setiap karya kita – dimana kita sedang menampilkan diri di atas bumi ini. Selain demi kualitas penampilkan diri di atas bumi dalam kerja, menenggelamkan diri dalam samudera kasih Ilahi-Nya juga penting untuk menyiapkan kehidupan abadi yang akan datang.
Bersatu dengan Kristus dalam Adorasi
Sebagai ciptaan, kita memiliki kewajiban pokok sehubungan dengan Allah Sang Pencipta. Kewajiban apa itu? Kewajiban menyembah-Nya. Sebagai ciptaan kita harus tergantung pada Sang Pencipta. Kita harus mengenali guru kita. Kita harus membiarkan diri dikuasai oleh kemuliaan Ilahi; dan Adorasi adalah cara yang paling tepat sempurna untuk hal itu. Ketika kita menyembah Allah, kita mengakui keberadaan kita yang tak sempurna.
St Teresia Avila berkata, “I am nothing, but God is everything!” Di saat itu jiwa yang suci rindu bernyanyi dengan nyanyian yang paling indah!” Tetapi di saat yang sama ia menyadari bahwa Allah ada di atas pujian, maka ia berhenti bernyanyi, bengong kagum dan membiarkan diri dipenuhi oleh kemuliaan-Nya.
Yesuslah penyembah Bapa yang benar! Seluruh hidup-Nya di dunia merupakan penyembahan dan pujian abadi kepada Bapa-Nya. Seluruh penampilan luar-Nya merupakan ungkapan padat dari sikap-Nya yang “menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:24). Ia senantiasa berada dalam kesempurnaan diri dan meluap kepada kita manusia. Sungguh setiap perbuatan-Nya adalah ungkapan penyembahan-Nya kepada Bapa-Nya. Kita menjadi tempat kepenuhan-Nya karena “Dia memenuhi semua dan segala sesuatu” (Ef 1:23).
Apa yang diajarkan atau yang diwartakan senantiasa bersifat kekal – untuk segala masa, dari kekal hingga kekal, dari awal ciptaan sampai mahkota ciptaan yaitu manusia, juga para malaikat dan Bunda Maria. Mereka adalah puncak ciptaan yang sangat mengagumkan.
St Mechtilda berkata, “Ia mencurahkan diriNya sendiri kepada ciptaan sesuai kehendakNya!” Dia inilah penyembah yang tak terbatas. Hanya Tuhan Yesus yang menyembah Bapa-Nya secara sempurna tak bercacat.
Oleh karena itu, dalam menyembah Allah Bapa, kita hamba yang hina ini cukup menyatukan diri dengan Yesus Kristus. “Hanya kepada Dia yang adalah pribadi sempurna, dan yang menyempurnakan kekurangan kita secara tak terbatas, kita menyembah Allah Bapa” (Bossuet). Setiap kali seorang imam memimpin Ekaristi, ia ‘memegang’ Kristus di tangannya dan mengangkatNya ke atas (seraya berkata: “kepada Dia, bersama Dia dan dalam Dia…segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa ia melengkapi kekurangan penyembahan umat pada umumnya.
Setiap orang kristiani “yang jiwanya beristirahat damai dalam Tuhan adalah sebuah altar” (St Agustinus) dan pada level yang paling rendah tetapi sungguh nyata “mereka itu adalah imam sejati” (Orignes). Karena Yesus bertakhta dalam semua anggota Tubuh-Nya, maka semua orang yang dibaptis memiliki imamat umum. Martabat Imamat itu terjadi karena ambil bagian dalam Imamat Yesus Kristus.
Yesus adalah Imam untuk semua orang bagi Allah Bapa. Maka marilah kita menyatukan suara kita dengan suara-Nya, yaitu “suara raja diraja”.
St Fransiskus dari Sales mengajak kita untuk menyatukan, “suara doa kita, perbuatan baik kita, keinginan kita, dan seluruh hidup kita” menjadi adorasi atau penyembahan kita kepada Allah Bapa; tentu sikap mental penyembahan kita akan disempurnakan oleh Dia, Yesus Kristus Tuhan kita!”
Bucket Rohani
“Hati Kudus Yesus pasti menggenapi kekurangan dan kelemahanku!”
Yohanes Haryoto SCJ
Baca juga: Bacaan Liturgi Rabu, 28 Februari 2024

One thought on “30 Langkah Menuju Kekudusan (36):”