Renungan Harian Rabu, 21 Januari 2026

PW St. Agnes, Perawan dan Martir

1Sam. 17:32-33,37,40-51; Mzm. 144:1,2,9-10; Mrk. 3:1-6; BcO Kej 14:1-24;(M)

Santa Agnes mempelai Anak Domba Allah.

Kasih yang Membebaskan

Saudara-saudari yang terkasih. Hari ini Gereja memperingati Santa Agnes, seorang martir muda yang hidup pada tahun 291–304. Ia dikenal sebagai gadis yang cantik dan simpatik, sehingga banyak pemuda jatuh hati kepadanya. Namun Agnes memilih jalan yang berbeda: ia berjanji untuk tidak menikah, tetap hidup sebagai perawan, dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Kristus yang sangat ia cintai.

Pilihan iman itu menimbulkan kekecewaan dan kemarahan. Agnes akhirnya dilaporkan kepada pengadilan Romawi sebagai seorang penganut Kristen. Di hadapan pengadilan, ia diancam hukuman mati dan dipaksa mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa Romawi. Namun Agnes tidak gentar. Ia dengan teguh menolak semua tuntutan tersebut dan mempertahankan iman serta kemurniannya, meskipun nyawanya menjadi taruhan. Baginya, Kristus adalah segalanya.

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini menampilkan Yesus yang menyembuhkan seorang yang sakit pada hari Sabat. Tindakan Yesus ini dipersoalkan oleh orang-orang Farisi karena dianggap melanggar hukum Sabat. Menanggapi hal itu, Yesus mengajukan pertanyaan yang menyentuh hati: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Pertanyaan itu membuat semua yang hadir terdiam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun hidup di tengah berbagai aturan dan kebiasaan. Sering kali kita tahu apa yang baik dan benar untuk dilakukan, tetapi kita ragu melakukannya karena takut dikritik, takut melanggar kebiasaan, atau takut dianggap tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Kita memilih diam, padahal kebaikan sebenarnya menunggu untuk diwujudkan.

Melalui Injil hari ini dan teladan Santa Agnes, Yesus mengajak kita untuk berani berbuat baik tanpa menunggu waktu yang “sempurna”. Setiap kesempatan untuk mengasihi dan menolong adalah saat yang tepat. Ketika kita memilih peduli, mengampuni, dan menolong meski terasa tidak nyaman, di situlah hati kita disembuhkan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Firmus KlauTingkat I

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.