1Sam. 16:1-13; Mzm. 89:20,21-22,27-28; Mrk. 2:23-28; BcO Kej. 12:1-9;13:2-18; (H)

Hukum yang Membebaskan
Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengisahkan Yesus yang berjalan di ladang gandum bersama para murid-Nya. Ketika para murid memetik bulir gandum, orang-orang Farisi segera menegur mereka. Teguran itu bukan karena para murid mencuri, melainkan karena tindakan tersebut dilakukan pada hari Sabat. Bagi kaum Farisi, ketaatan pada hukum Sabat lebih penting daripada situasi dan kebutuhan manusia yang sedang lapar.
Menanggapi hal itu, Yesus memberikan penegasan yang sangat mendalam: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Jadi Anak Manusia adalah Tuhan juga atas hari Sabat.” Melalui sabda ini, Yesus menyingkapkan hakikat hukum ilahi. Tuhan tidak menciptakan aturan untuk membelenggu manusia, melainkan untuk membebaskan, melindungi, dan memulihkan martabat manusia.
Refleksi ini mengajak kita bertanya: selama ini, apakah relasi kita dengan Tuhan lebih didasari oleh rasa takut melanggar hukum, atau oleh kerinduan akan kasih-Nya? Hari Sabat—atau waktu khusus bagi Tuhan—seharusnya menjadi saat bagi jiwa untuk beristirahat di hadirat Allah, berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hidup, dan menyadari bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh apa yang kita kerjakan, melainkan oleh siapa kita di mata Tuhan. Jika aturan yang kita jalani justru membuat kita mudah menghakimi dan kehilangan empati terhadap sesama, maka kita telah melenceng dari inti ajaran Kristus.
Saudara-saudari terkasih, ketika Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Tuhan atas hari Sabat,” Ia mengundang kita untuk menyerahkan segala beban, kepenatan, dan tuntutan kesempurnaan duniawi kepada-Nya. Ia menegaskan bahwa belas kasih jauh lebih berharga daripada ritual yang hampa makna. Di tengah dunia yang menuntut kita terus berlari tanpa henti, Yesus menawarkan perhentian yang sejati: sebuah ruang di mana kebutuhan manusiawi kita dipandang dengan penuh cinta, dan di mana kebebasan sejati ditemukan dalam ketaatan yang lahir dari kasih. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Antonius Vianto Jefri Ansa R.G-Tingkat 1
Foto: Pinterest
