Renungan Harian Kamis, 22 Januari 2026

1Sam. 18:6-9; 19:1-7; Mzm. 56:2-3,9-10a,10bc-11,12-13; Mrk. 3:7-12; BcO Kej 15:1-21; (H)      

Memberikan dengan sepenuh hati.

Melayani dengan Kasih

Saudara-saudari yang terkasih. Pada suatu hari ada seorang pengemis yang duduk di pinggir jalan sambil bernyanyi. Lewatlah seorang pria kaya yang juga seorang kreator konten. Melihat pengemis itu, ia pun berpikir bahwa momen tersebut bisa menjadi konten yang viral. Ia lalu memberikan uang lima juta rupiah kepada si pengemis. Semua direkam dengan rapi, lengkap dengan musik latar dan ekspresi dramatis. Video itu pun meledak di media sosial, dan sang kreator dipuji sebagai dermawan sejati. Namun di balik layar, penghasilan yang ia peroleh dari video tersebut jauh lebih besar daripada uang yang ia berikan. Inikah kebaikan sejati? Bandingkan dengan kebaikan seorang ibu rumah tangga yang setiap minggu dengan penuh sukacita menjenguk dan mengantar makanan kepada tetangganya yang sakit. Tak ada kamera, tak ada pujian, namun kasihnya sungguh nyata.

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengisahkan Yesus yang dikerumuni banyak orang dari berbagai daerah yang terpesona oleh mukjizat-mukjizat-Nya. Namun Yesus tidak mencari ketenaran. Ia bahkan melarang orang-orang memberitahukan siapa diri-Nya. Ia menyembuhkan banyak orang, tetapi tetap menjaga jarak dari kerumunan yang hanya mengejar mukjizat dan sensasi. Yesus menghendaki relasi yang sejati, bukan sekadar kekaguman sesaat. Karena itu, Ia meminta para murid menyediakan sebuah perahu agar Ia tidak terhimpit oleh orang banyak, lalu menyingkir ke danau, menjauh dari hiruk-pikuk yang dangkal.

Melalui Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita makna pelayanan yang sejati. Kita dipanggil untuk melayani dengan kasih yang tulus, bukan demi dikenal atau dipuji, seperti kreator dalam cerita tadi. Pelayanan sejati lahir dari kesadaran bahwa kasih Allah yang kita terima juga harus dibagikan kepada sesama. Yesus mengundang kita untuk melayani karena cinta, bukan demi sorotan. Sebab kebaikan yang paling murni justru sering dilakukan dalam keheningan, dengan hati yang penuh syukur. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Clementio Novanta SimanullangTingkat IV

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.