Renungan Harian Rabu, 28 Januari 2026

PW St. Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja 

BcE 2 Sam. 7:4-17; Mzm. 89:4-5,27-28,29-30; Mrk. 4:1-20; BcO Kej 22:1-19; (P)

Santo Thomas Aquinas

​Mengolah Hati

Saudara-saudari yang terkasih. Beberapa waktu lalu saya mencoba menyemai benih sawi di kebun. Saya tidak menaburnya secara asal, melainkan mempersiapkan media tanam dengan sungguh-sungguh: mencampur tanah, kompos, dan sekam dengan hati-hati. Benih-benih itu saya tabur, saya tutup, dan saya sirami dengan penuh perhatian. Beberapa hari kemudian, saya bersyukur melihat benih-benih sawi itu berkecambah dan bertunas dengan baik. Setelah daunnya muncul, bibit-bibit tersebut saya pindahkan ke lahan yang telah disiapkan. Keberhasilan benih itu tumbuh tidak lepas dari kualitas tanah yang menerimanya.

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang penabur. Diceritakan ada empat jenis tanah. Benihnya sama, yakni Sabda Tuhan yang ditaburkan dengan penuh kasih kepada kita semua, dan penaburnya pun sama. Namun hasilnya sangat berbeda, bukan karena benihnya, melainkan karena kondisi tanah yang menerimanya.

Mari kita jujur pada diri sendiri. Ketika mendengarkan Sabda Tuhan, kita termasuk jenis tanah yang mana? Apakah kita seperti tanah di pinggir jalan, yang keras dan tidak peduli sehingga Sabda segera hilang? Ataukah seperti tanah berbatu, yang menerimanya dengan gembira tetapi cepat layu saat masalah datang? Atau justru seperti tanah berduri, yang hatinya penuh kekhawatiran dan keterikatan duniawi sehingga Sabda terhimpit dan tidak sempat berbuah? Hanya tanah yang baik—seperti media tanam yang disiapkan dengan sungguh—yang mampu menerima benih dan menghasilkan buah.

Saudara-saudari terkasih, perumpamaan ini adalah undangan bagi kita untuk mengolah “tanah hati” kita. Caranya adalah dengan menyingkirkan batu dan duri yang menghambat pertumbuhan Sabda. Duri itu berupa kekhawatiran dan cinta berlebihan pada hal-hal duniawi, sementara batu adalah kesombongan dan ketakutan yang menghalangi kita untuk taat pada kehendak Allah. Kita diajak membangun relasi personal dengan Tuhan melalui Sabda-Nya yang kita dengarkan, renungkan, dan hidupi setiap hari.

Menyadari bahwa kita adalah tanah yang selalu membutuhkan perawatan dari Sang Penggarap, marilah kita tekun berdoa dan membuka hati bagi karya Roh Kudus. Dengan demikian, Sabda Tuhan tidak hanya singgah, tetapi sungguh bertumbuh, berakar, dan berbuah dalam hidup kita. Seperti Santo Tomas yang kita peringati hari ini, marilah kita berusaha menjadi tanah yang baik agar Sabda Tuhan menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Felix WidicahyadiTingkat VI

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.