Renungan Harian Senin, 2 Februari 2026

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

Mal 3:1-4 atau Ibr 2:14-18; Mzm 24:7.8.9.10; Luk 2:22-40 atau Luk 2:22-32; BcO Kel 13:1-3a.11-16

Yesus dipersembahkan di Kenisah.

Persembahan Hati Yang Tulus

Saudara-saudari yang terkasih, pada hari ini Gereja Universal merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah. Pesta ini merupakan misteri iman di mana Allah yang hadir dalam kehidupan manusia rela tunduk pada hukum ibadat manusia. Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus sebagai ungkapan persembahan cinta Allah demi keselamatan dunia yang dipenuhi oleh dosa-dosa manusia.

Kitab Maleakhi menggambarkan kedatangan Tuhan seperti api pemurni dan sabun penatu. Gambaran ini bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memurnikan umat-Nya agar persembahan hidup mereka berkenan kepada Allah. Nubuat ini menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus yang datang ke Kenisah bukan sebagai hakim yang menakutkan, melainkan sebagai Anak kecil yang kelak memurnikan manusia melalui kasih, pengorbanan, dan ketaatan total kepada Bapa.

Bacaan kedua dari Surat kepada orang Ibrani menegaskan bahwa Yesus sungguh mengambil bagian dalam kodrat manusia. Ia menjadi sama dengan kita dalam segala hal, kecuali dosa, agar Ia dapat mengalahkan kuasa maut dan menjadi Imam Besar yang penuh belas kasih. Dengan menjadi manusia, Yesus masuk ke dalam penderitaan manusia, memahami kelemahan kita, dan menebus kita dari dalam. Persembahan Yesus di Kenisah menjadi tanda awal bahwa seluruh hidup-Nya adalah persembahan bagi Allah demi keselamatan manusia.

Injil Lukas menampilkan perjumpaan iman antara Yesus dengan Simeon dan Hana. Simeon, yang digerakkan oleh Roh Kudus, mengenali Yesus sebagai Terang bagi bangsa-bangsa dan kemuliaan Israel. Namun terang itu juga membawa konsekuensi: Yesus akan menjadi tanda yang menimbulkan pertentangan, dan Maria akan mengalami penderitaan. Di sini kita melihat bahwa keselamatan tidak pernah terlepas dari salib. Hana pun menjadi teladan kesetiaan; di tengah penderitaan ia tetap setia menanti dengan tekun dan melalui doa berani menjadi saksi bahwa Allah setia menggenapi janji-Nya.

Melalui pesta ini, Gereja mengajak kita untuk merenungkan makna mempersembahkan diri kepada Allah. Yesus telah lebih dahulu dipersembahkan kepada Bapa; kini kita pun dipanggil untuk mempersembahkan hati kita kepada-Nya dengan tulus—baik kelemahan, harapan, maupun kasih kita kepada Allah. Semoga terang Kristus yang dipersembahkan di Kenisah memurnikan hati kita, meneguhkan iman kita, dan mendorong kita untuk hidup sebagai saksi keselamatan Allah di tengah dunia. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Yulius Susilo-Tingkat IV

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.