Renungan Harian Rabu, 18 Februari 2026

HARI RABU ABU: Pantang dan Puasa

BcE Yl. 2:12-18; Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6,16-18; BcO Yes. 58:1-14; (U)

Ingat, Kamu adalah abu.

Kembali kepada Tuhan dengan Segenap Hati

Saudara-saudari terkasih, hari ini, kita memasuki gerbang suci Masa Prapaskah dengan Rabu Abu. “Ingatlah bahwa engkau debu dan kepada debu engkau akan kembali.” Tanda salib abu di dahi mengingatkan kita untuk melakukan pertobatan yang sejati, bukan sekadar ritual lahiriah, tetapi pembaruan total dari dalam hati kita.

Nabi Yoel menyampaikan seruan Tuhan yang sangat mengena: “Kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu.” Perhatikan, Tuhan tidak meminta kita merobek pakaian sebagai tanda duka, melainkan merobek hati kita. Ini berarti pertobatan yang diminta bukan sekadar perubahan penampilan luar atau kegiatan religius yang mencolok, tetapi transformasi mendalam di dalam hati. Tuhan kita adalah Allah yang pengasih dan penyayang, yang lambat untuk marah dan berlimpah kasih setia. Dia tidak menginginkan kematian kita, melainkan kehidupan. Dia menantikan kita dengan tangan terbuka, siap mengampuni jika kita benar-benar kembali kepada-Nya.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus memperjelas peran kita sebagai umat beriman: kita adalah duta-duta Kristus. Melalui kita, Allah menyampaikan pesan rekonsiliasi kepada dunia. Paulus memohon dengan sangat, “Berdamailah dengan Allah!” Kristus yang tidak berdosa harus menanggung beban dosa karena kita, supaya kita dibenarkan di hadapan Allah. Kasih karunia Allah yang begitu besar ini tidak boleh kita terima dengan sia-sia. Sekarang adalah saat yang tepat, hari ini adalah hari keselamatan. Masa Prapaskah adalah waktu yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memperbarui hubungan kita dengan-Nya.

Dalam Injil, Yesus memberikan pedoman praktis tentang tiga pilar kehidupan rohani: sedekah, doa, dan puasa. Namun Yesus menekankan sikap hati yang benar dalam melakukannya. Jangan bersedekah agar dipuji orang, jangan berdoa dengan berdiri di sudut-sudut jalan agar dilihat orang, dan jangan berpuasa dengan muka muram agar orang tahu kita sedang berpuasa. Semua ini adalah kemunafikan. Tuhan melihat yang tersembunyi. Dia mengenal niat hati kita yang paling dalam.

Masa Prapaskah mengundang kita untuk hidup dengan lebih jujur di hadapan Tuhan. Sedekah kita adalah ungkapan kasih yang tulus kepada sesama. Doa kita adalah percakapan intim dengan Bapa yang mengasihi kita. Puasa kita adalah latihan pengendalian diri dan solidaritas dengan mereka yang menderita. Semuanya dilakukan bukan untuk mencari pujian, tetapi untuk kemuliaan Allah dan pertumbuhan rohani kita sendiri.

Empat puluh hari di hadapan kita adalah kesempatan emas untuk memeriksa hati kita: Dosa-dosa apa yang masih membelenggu kita? Hubungan apa yang perlu diperbaiki? Kebiasaan buruk apa yang harus ditinggalkan? Mari kita kembali kepada Tuhan yang menantikan kita dengan penuh belas kasihan, yang siap memulihkan dan memperbarui kita. Sebab Dia adalah Allah yang setia, yang tidak pernah menyerah pada kita, anak-anak-Nya. Selamat menjalani Masa Prapaskah yang penuh berkat, Tuhan memberkati kita semua.

**Fr. Clementio Simanullang-Tingkat IV

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.