PW St. Antonius, Abas
1Sam. 9:1-4,17-19; 10:1a; Mzm. 21:2-3,4-5,6-7; Mrk. 2:13-17; BcO Kej 8:1-22; (P)

Dari Meja Pajak ke Meja Perjamuan
Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini mengisahkan Yesus yang kembali berjalan di tepi Danau Galilea. Di tengah keramaian orang banyak, pandangan-Nya tertuju pada seorang pemungut cukai bernama Lewi yang sedang duduk di tempat pemungutan pajak. Pekerjaan itu membuat Lewi dibenci, dicurigai, dan dicap sebagai pendosa oleh masyarakat. Namun Yesus tidak memandang Lewi dari masa lalunya, reputasi, atau label sosial yang melekat padanya. Dengan sabda yang sederhana namun penuh kuasa, Yesus berkata, “Ikutlah Aku.” Tanpa banyak kata, Lewi bangkit, meninggalkan segalanya, dan mengikuti-Nya. Panggilan itu pun berlanjut dalam sebuah perjamuan, ketika Yesus duduk makan bersama Lewi dan banyak pemungut cukai serta orang-orang yang dianggap pendosa.
Bagi kaum Farisi, pemandangan ini sungguh mengganggu. Bagaimana mungkin seorang guru rohani justru bergaul akrab dengan mereka yang dipandang najis dan tidak layak? Menanggapi kegelisahan itu, Yesus menyampaikan pernyataan yang menyingkapkan inti perutusan-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Dengan kata-kata ini, Yesus menegaskan bahwa misi-Nya adalah menyembuhkan yang terluka, memulihkan yang tersingkir, dan menghadirkan belas kasih Allah bagi mereka yang sadar akan kebutuhan akan rahmat-Nya.
Saudara-saudari terkasih, kisah panggilan Lewi mengajak kita bercermin. Tanpa disadari, kita pun kerap bersikap seperti orang Farisi: merasa lebih benar, lebih suci, atau lebih layak daripada orang lain. Kita mudah memberi label, menjaga jarak, dan menutup pintu hati bagi mereka yang hidupnya tidak sesuai dengan harapan kita. Padahal, di hadapan Allah, kita semua adalah orang-orang yang membutuhkan tabib ilahi. Tidak seorang pun benar karena kekuatannya sendiri; kita hidup semata-mata oleh belas kasih Tuhan.
Panggilan Yesus kepada Lewi adalah panggilan bagi kita hari ini. Ia memanggil kita apa adanya, di tengah keterbatasan, kelemahan, dan dosa kita. Yang Ia kehendaki bukanlah kesempurnaan, melainkan keberanian untuk bangkit, meninggalkan cara hidup lama, dan berjalan bersama-Nya. Mengikuti Yesus berarti membiarkan diri diubah oleh kasih-Nya dan belajar memiliki hati yang penuh belas kasih: tidak menghakimi, berani mendekati mereka yang terluka, serta menghadirkan harapan. Semoga kita pun menjadi saksi kasih Allah yang menyembuhkan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Oliver Dito-Tingkat I
Foto: Pinterest
