PW St. Yohanes Bosco, Imam
2Sam. 12:1-7a,10-17; Mzm. 51:12-13,14-15,16-17; Mrk. 4:35-41; BcO Kej 25:7-11.19-34; (P)

Nahkoda Sejati
Saudara-saudari yang terkasih. Bacaan hari ini mengajak kita untuk berani melihat diri dengan jujur, bertobat dengan rendah hati, dan tetap percaya kepada Tuhan di tengah berbagai kesulitan hidup. Injil menggambarkan pengalaman yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Para murid berada di dalam perahu ketika badai besar datang dengan angin kencang dan ombak yang mengamuk. Mereka panik dan diliputi ketakutan, sementara Yesus justru tertidur. Dalam kepanikan itu, mereka berseru, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”
Seruan ini kerap juga muncul dari hati kita ketika menghadapi sakit penyakit, kegagalan, tekanan ekonomi, relasi yang retak, atau masa depan yang tiba-tiba terasa gelap. Dalam situasi seperti itu, kita merasa seperti para murid di perahu: takut, gelisah, dan seolah-olah Tuhan sedang “tidur” serta tidak peduli pada penderitaan kita. Kita pun bertanya, “Tuhan, Engkau tidak peduli kalau aku binasa?”
Padahal, Yesus ada di dalam perahu yang sama. Menariknya, Yesus tetap tenang bahkan tertidur di tengah badai. Ketenangan-Nya bukan karena Ia tidak peduli, melainkan karena Ia sungguh tahu siapa diri-Nya: Tuhan atas alam semesta. Melalui peristiwa ini, kita diingatkan bahwa badai hidup memang bisa sangat dahsyat, tetapi “Penumpang” di dalam perahu hidup kita jauh lebih berkuasa daripada badai mana pun.
Sering kali masalah kita bukan terletak pada besarnya badai, melainkan pada kecilnya iman kita. Yesus menegur para murid, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Percaya bukan berarti badai langsung berhenti ketika kita berdoa, tetapi percaya berarti memiliki kedamaian di dalam hati meskipun angin masih bertiup kencang. Selama Yesus ada di dalam perahu hidup kita, kita tidak akan pernah tenggelam.
Saudara-saudari terkasih, seperti Santo Yohanes Bosco yang kita peringati hari ini, kita diajak untuk tetap setia dan percaya meskipun menghadapi banyak tantangan dan penolakan. Dalam perjalanan hidup, kita bisa lelah, kehilangan arah, bahkan hampir menyerah. Mari kita serahkan kemudi hidup kita kepada Tuhan. Jangan terlalu fokus pada besarnya gelombang, tetapi arahkan pandangan pada kehadiran Yesus yang setia menyertai. Ketika kita berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan bersandar pada-Nya, kita akan mendengar-Nya berkata kepada badai di hati kita: “Diam! Tenanglah!” Dan damai sejahtera yang melampaui segala akal budi akan memenuhi jiwa kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yohanes Wahyu Vega–Tingkat IV
Foto: Pinterest
