Uskup Agung Rino Fisichella, pro-prefek Dikasteri untuk Evangelisasi, berpidato di sebuah konferensi di Maynooth, Irlandia, dan mendesak umat Kristiani untuk memberikan kesaksian yang kredibel secara daring dan dalam interaksi langsung mereka.
“Gereja tidak menginjili karena dia menghadapi tantangan besar sekularisasi, tetapi karena dia harus patuh pada perintah Tuhan untuk mewartakan Injil-Nya kepada setiap makhluk.”
Pro-Prefek Dikasteri untuk Evangelisasi, Uskup Agung Rino Fisichella, menyampaikan pertimbangan itu pada Selasa (25/4) di Universitas Kepausan St. Patrick, di Maynooth, Irlandia.
Uskup Agung berbicara pada sebuah konferensi bertajuk “Evangelisasi dan Panggilan”.
Inkarnasi Budaya Injil
Kekristenan, kata Uskup Agung Fisichella, harus diwujudkan dalam sejarah, dan oleh karena itu Gereja perlu “masuk ke dalam budaya dan menghasilkan sejarah.”
Ketika Gereja berusaha menemukan jalan baru evangelisasi di bawah bimbingan Roh Kudus, lanjut Uskup Agung, umat Kristiani harus menyampaikan “apa yang telah diyakini oleh semua orang, di mana saja” dalam semua aktivitas manusia.
“Budaya digital,” kata Uskup Agung, mewakili bentuk budaya baru yang akan “menentukan abad-abad mendatang” dan harus dipahami serta dianut oleh Gereja.
“Internet tentu saja merupakan kesempatan untuk berdialog, bertemu dan bertukar di antara orang-orang, serta akses ke informasi dan pengetahuan,” katanya, seraya menambahkan bahwa pertanyaan sebenarnya “bukanlah bagaimana menggunakan teknologi baru untuk menginjili, tetapi bagaimana menjadi seorang yang menginjili kehadiran di dunia digital.”
Pertemuan Digital dan Pribadi
Pada saat yang sama, kata Uskup Agung kelahiran Italia itu, evangelisasi tidak hanya dapat dilakukan melalui sarana digital, karena ini akan menghasilkan “evangelisasi yang lemah dan tidak efektif.”
Tindakan memberikan kesaksian harus mencakup pertukaran antarpribadi, katanya, yang mengalir dari perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan dan panggilan kita untuk misi.
“Jika kebaruan dan orisinalitas wahyu Yesus Kristus digagalkan, kehadiran Gereja di dunia kontemporer menjadi tidak berguna,” kata Uskup Agung Rino.

Panggilan untuk Membimbing Orang Lain Kepada Kristus
Uskup Agung Fisichella selanjutnya merenungkan panggilan Kristiani, yang terdiri dari penemuan panggilan Tuhan, bukan dari inisiatif kita sendiri.
Dia mendesak para seminaris yang menghadiri konferensi di Maynooth untuk membantu menemani kaum muda saat mereka melewati masa yang penuh gejolak dalam hidup mereka.
Membantu kaum muda menemukan panggilan mereka, tambahnya, “membutuhkan kebijaksanaan dari seseorang yang mengetahui bahwa mereka memikul tanggung jawab untuk memimpin orang lain menuju kebebasan.”
Uskup Agung mencatat bahwa kotbah tidak pernah menjadi latihan yang basi dan statis, melainkan pertukaran yang dinamis antara Sabda Allah dan kehidupan Gereja.
Kasih Kristus Bukanlah Utopia
Sebagai penutup, Pro-Prefek Dikasteri Evangelisasi mengingatkan bahwa orang yang menginjili harus hidup sedemikian rupa agar konsisten dengan Sabda yang mereka kotbahkan.
Kehidupan imam, kata Uskup Agung Fisichella, menunjukkan bahwa mereka tidak kehilangan kemanusiaan ketika mereka memilih untuk mengikuti panggilan imamat.
Para imam, dia menyimpulkan, “harus menjadi tanda nyata bahwa kasih Kristus bukanlah utopia… tetapi kenyataan yang dapat dialami setiap orang ketika mereka berusaha untuk memberikan hidup mereka dengan bebas.” **
Devin Watkins (Vatican News)
