“Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Lukas 6:21).
Ada seorang bapak tua yang sejak pagi belum mendapatkan makanan. Biasanya sang anak mengantar makanan baginya. Namun hari itu sang anak mengalami kecelakaan, sehingga dia mesti menjalani sejumlah perawatan hingga siang hari. Dia baru bisa mengantar makanan untuk ayahnya yang hidup sebatang kara itu pada sore hari.
Begitu menyaksikan makanan itu, sang ayah menyambutnya dengan sangat bersukacita. Dia menyantapnya sampai ludes. Dia lupa bertanya apa yang terjadi dengan anaknya, sehingga seharian tidak muncul. Baginya, yang penting adalah makanan yang mampu mengenyangkan dirinya. Makanan itu telah menyelamatkan dirinya dari rasa lapar.
Lantas sang anak menceritakan kecelakaan yang terjadi atas dirinya. Bapak tua itu tidak bergairah untuk mendengarkan kisah itu. Yang penting baginya adalah makanan yang memberikan kekenyangan perutnya.

Ukuran Kebahagiaan
Ada ukuran kebahagiaan yang dihidupi oleh setiap orang. Ada yang bahagia ketika mengalami hidup yang baik dan mapan. Ada yang bahagia berkat perhatian dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang bahagia boleh menikmati makanan yang enak.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk memusatkan perhatian kita pada sukacita yang sedang kita alami. Bapak tua itu sungguh-sungguh fokus pada makanan yang memuaskan rasa laparnya. Dia tidak ingin mendengar kisah sedih kecelakaan anaknya. Dia tidak ingin sukacitanya sirna oleh kisah sedih anaknya itu.
Banyak orang kehilangan sukacita, karena terlalu mencampuradukkan banyak hal dalam hidupnya. Orang tidak membatasi diri pada hal-hal yang membuat dirinya bahagia. Akibatnya, orang sering dikuasai oleh emosi jiwanya. Orang kemudian terpaksa mengalami sukacita. Atau sukacita orang tidak lepas bebas.
Orang beriman menggantungkan sukacitanya pada sukacita Tuhan. Suatu sukacita yang tidak pernah sirna oleh kekuatan apa pun. Hidup dalam Tuhan itu berlimpah-limpah sukacita. Karena itu, orang mesti senantiasa mengarahkan hidup pada sukacita yang Tuhan berikan kepadanya. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales CJ
