30 Langkah Menuju Kesucian (28)

Satukanlah Sukacitamu dengan Yesus

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Doa

“Oh Tuhanku, sungguh besar Kau Allahku.
Engkau senantiasa memberi sukacita kepadaku setiap hari.
Di sana aku hanya menemukan senyum IlahiMu, lain tidak.
Tuhan, kusadari apa pun yang membuat aku heran adalah anugerahMu” Amin.

Bersukacita dalam Tuhan | Foto: Pinterest

Pengajaran

Pengantar

Apa itu sukacita? St Thomas mengatakan, “Sukacita adalah situasi dan buah dari persahabatan yang benar!” Seseorang bisa disebut sahabat sejati kalau dalam hidupnya, ia bisa menikmati sukacita temannya.

St. Mechtilda pernah menyampaikan kata Sang Guru tentang sukacita, “Engkaulah seni sukacitaKu, demikian juga Aku adalah sumber sukacitamu!” Selanjutnya Sang Guru berkata, “Aku senantiasa menyatukan dirimu dengan diriKu dalam semua sukacitaKu melalui kasih yang telah Kuberikan kepadamu, dan Aku tak bisa bersukacita tanpa menikmatinya bersamamu!”

Perwahyuan itu sebuah sinyal bahwa bila kita menghadap Dia perlu memiliki sikap polos seperti anak kecil yang berharap banyak dari orang dewasa – Dialah sumber sukacita dalam hati kita. Mari kita merenungkan tentang “hanya dalam persembahan diri secara total, ada sukacita dan keutamaan!”

Sukacita adalah Pemberian dari Allah

Yansenisme adalah skisma yang menolak kehendak bebas manusia. Aliran ini berpendapat bahwa Kristus datang hanya untuk mereka yang pantas. Di sana diajarkan bahwa untuk memperoleh Keutamaan Ilahi atau dalam menempuh jalan kekudusan orang harus melakukan askese yang keras – latihan rohani secara disiplin ketat.

Semua latihan rohani harus dilakukan dengan rasa takut dan gemetar. Karena itu, kesucian hanya miliknya para penghuni biara yang ber-askese keras. Dampaknya adalah banyak orang tidak tertarik untuk memiliki keutamaan atau menempuh jalan kekudusan.

Seandainya ada orang yang berani mencoba menempuh jalan itu, mereka tidak akan tahan lama. Latihan kerohanian ini seperti orang yang memanjat tebing terjal dan sulit. Setelah beberapa langkah memanjat, orang itu cepat-cepat turun dengan kesal dan takut. Menyiksa diri adalah bagian dari askese ini.

Untuk melawan aliran ini St Basilius menyebut setan sebagai “Malaekat murung!” – dan kita tahu bahwa roh buruk menyukai kesedihan karena ia sendiri sedih dan meratapi dirinya untuk selama-lamanya!”

Apakah Anda sungguh ingin membersihkan diri dari dosa-dosa Anda, dan terus berkembang dari baik menuju ke yang lebih baik lagi dalam melayani Allah? Bila kita terus ingin maju, kita perlu memegang kata-kata St Ignasius, “tanda-tanda khusus tindakan Allah dan malaekatNya adalah Dia mengisi jiwa kita dengan kebahagiaan sejati dan sukacita dalam Roh! Sebaliknya tanda-tanda khusus dari roh buruk adalah tidak senang dengan sukacita – mereka akan terus melawan sukacita!” Sukacita adalah salah satu buah-buah Roh Kudus: “buah Roh ialah: kasih, sukacita …” (Gal 5:22).

Sukacita datang setelah kasih karena sukacita adalah pantulan dari kasih. Boleh dikatakan sukacita adalah senyum kasih – smile of love. St Thomas mengatakan, “Bersukacita itu sebuah kwajiban yang bercampur dalam perintah mencintai. Dengan kata lain sukacita adalah buah kasih: merasa puas dengan saat ini dan bersyukur dengan apa yang dimiliki…!

Tatkala kita menikmati sukacita, kita menikmati Allah!” Pada saat itu juga kita berada dalam kebenaran sabda Allah: “Kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKu-pun ringan.” (Mat 11:30). Perlu kita sadari bahwa sukacita karena melayani Allah tak terbandingkan dengan sukacita apapun.

St Fransiskus de Sales mengatakan bahwa kita bisa memukul mundul setan dengan keutamaan sukacita ini. Pesannya, “Berjalanlah terus di jalan menuju ke surga dengan sukacita. Jagalah hati dan jiwamu dalam semangat sukacita yang kudus, yaitu syukur, murah hati, dan sukacita yang tidak arogan. Jika seseorang baik dan simpati pada Anda, yakinlah bahwa itu kehendak Allah, dan bersyukurlah atas hiburan sederhana itu!”

Sukacita adalah jalan menuju kesucian karena dengan itu kita bisa menyadari kehadiran Yesus dalam jiwa kita dan menerima apa yang diberikan kepada kita. St Maria Magdalena dari Pazzi sering berlari menuju taman untuk memetik setangkai bunga dan mencium harumnya, dan segera setelah itu jiwanya terbang melayang – bersukacita melebihi sukacita duniawi lainnya, dan ia berseru, “Betapa besar namaMu, oh Yesusku! Dari tempat abadiMu Engkau hadir dalam bunga ini untuk menganugerahkan sukacita kepada orang sederhana seperti aku ini!”

Sukacita kita senantiasa akan bertambah-tambah berlipat ganda, dan semua itu akan menguduskan jiwa, jika kita mempersembahkannya kepada Sang Juruselamat kita. Keberhasilan kita yang sederhana akan memelihara keyakinan diri dan menghindari kesombongan bila kita satukan dengan Hati Guru kita yang baik, dan kesedihan kita akan berubah menjadi sukacita dalam Salib di mana Yesus hadir di sana! Lampting turns into dancing – ratapan berubah menjadi tarian.

Buchet Rohani

“Dalam bernyanyi kita melayani Allah; dan dalam melayani Allah kita harus sukacita – Qui cantat, bis orat – bernyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali” kata St Agustinus.

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.