Sesudah Rabu Abu
Yes. 58:1-9a; Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19; Mat. 9:14-15; BcO Kel 2:1-22; (U)

Kerinduan yang Mendalam
Saudara-saudari terkasih, banyak di antara kita pada saat Prapaskah berkata; “saya puasa loh romo.” Namun kita patut bertanya, puasa seperti apa yang sedang kita jalani? Dalam puasa kita diajak kembali kepada Tuhan dengan hati yang terbuka dengan membangun semangat tobat. Yesus mengundang kita untuk hidup dalam kasih.
Dalam perikop Injil hari ini, Yesus memberikan jawaban yang sangat indah tentang makna puasa. Ia tidak berbicara tentang kewajiban hukum yang kaku, melainkan tentang kasih. Ia menyebut diri-Nya sebagai “Mempelai”. Puasa bukanlah tentang mengosongkan diri demi penderitaan itu sendiri, melainkan tentang menciptakan ruang untuk kerinduan.
Seringkali hidup kita terlalu penuh. Hati kita penuh dengan kekhawatiran, pikiran kita penuh dengan ambisi, dan tangan kita terlalu penuh menggenggam hal-hal duniawi. Dalam kondisi “kenyang” seperti itu, kita sering lupa bahwa sebenarnya jiwa kita sedang haus akan Tuhan.
Di masa Prapaskah ini, Gereja mengajak kita untuk berpantang dan berpuasa. Namun, mari kita renungkan: Apakah puasa kita hanya sekadar memindahkan jam makan atau mengganti menu hidangan? Yesus mengatakan bahwa saat Mempelai itu diambil, itulah saatnya sahabat-sahabat-Nya berpuasa. Puasa Prapaskah adalah momen di mana kita mengakui secara jujur bahwa “Tuhan, aku merasa kehilangan-Mu di tengah kesibukanku.” Kita lapar bukan hanya karena tidak makan, tetapi karena kita sadar betapa kita membutuhkan kehadiran-Nya untuk menuntun hidup kita.
Saudara-saudari terkasih, melalui pantang dan puasa yang kita jalankan, kita diajak untuk melepaskan apa yang selama ini kita anggap paling penting, agar kita sadar bahwa hanya Tuhanlah yang utama. Kekosongan yang kita rasakan saat berpuasa seharusnya melembutkan hati kita untuk melihat penderitaan sesama yang kekurangan dalam semangat belarasa. Kita berpuasa sekarang, agar kelak di hari Paskah, kita bisa merayakan sukacita kebangkitan dengan hati yang baru dan bersih. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Antonius Vianto Jefri Ansa R.G-Tingkat 1
Foto: Pinterest
