Kis. 4:1-12; Mzm. 118:1-2,4,22-24,25-27a; Yoh. 21:1-14.

Ketika Jala Kosong
Saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja mengajak kita merenungkan Petrus yang dengan berani bersaksi tentang Yesus, serta para murid yang semalaman menjala tanpa hasil, namun kemudian mengalami kelimpahan ketika taat pada sabda Tuhan yang bangkit. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa Paskah melahirkan hati yang berani dan hidup yang kembali berbuah. Kebangkitan Kristus bukan sekadar kenangan, melainkan sumber hidup baru bagi setiap orang beriman.
Petrus yang dahulu pernah menyangkal Yesus, kini tampil dengan penuh keberanian. Ia tidak lagi takut, sebab ia telah berjumpa dengan Kristus yang bangkit dan dipenuhi Roh Kudus. Dengan tegas ia menyatakan bahwa Yesus, yang sempat ditolak, justru menjadi batu penjuru, dan bahwa keselamatan hanya ada dalam nama-Nya. Sabda ini mengingatkan kita bahwa dasar hidup kita bukanlah kekuatan diri, harta, atau jabatan, melainkan Yesus sendiri sebagai sumber keselamatan sejati.
Saudara-saudari terkasih, kisah para murid yang bekerja keras semalaman tetapi tidak memperoleh apa-apa sangat dekat dengan pengalaman hidup kita. Ada saat-saat ketika kita merasa lelah, kosong, dan seolah tidak melihat hasil dari doa, pekerjaan, atau pelayanan kita. Namun justru dalam situasi seperti itulah Yesus yang bangkit hadir. Ia tidak datang untuk menyalahkan, melainkan untuk menuntun dan menguatkan. Ketika para murid taat pada sabda-Nya, jala yang tadinya kosong menjadi penuh berkat.
Melalui pengalaman ini, Tuhan mengundang kita untuk tidak putus asa. Ia mengajak kita untuk memulai kembali bersama-Nya, setia dalam hal-hal kecil, dan percaya bahwa Ia sanggup mengubah kelelahan menjadi berkat. Hidup yang dijalani tanpa mendengarkan Tuhan akan terasa hampa, tetapi ketaatan kepada-Nya akan menghasilkan buah yang melimpah.
Karena itu, marilah kita bertanya dalam hati: di bagian mana hidup kita terasa seperti jala yang kosong—dalam doa, keluarga, pekerjaan, atau pelayanan? Jangan takut membawa semuanya kepada Tuhan. Paskah bukanlah kisah tentang orang yang tidak pernah gagal, melainkan tentang mereka yang mau kembali kepada Kristus, mendengarkan sabda-Nya, dan membiarkan diri dituntun oleh-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Markus Nikodemus Panggabean–Tingkat VI
Foto: Pinterest
