Renungan Harian Selasa, 7 April 2026

Kis. 2:36-41; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; Yoh. 20:11-18. 

Mengenali Sapaan Kasih

Saudara-saudari terkasih, kisah Maria Magdalena di depan kubur yang kosong menjadi cermin bagi kehidupan kita, terutama saat kita merasa kehilangan arah. Maria menangis dengan sangat dalam karena ia merasa telah kehilangan segalanya: Gurunya, harapannya, bahkan jenazah-Nya pun tidak ia temukan. Kesedihan yang mendalam membuat pandangannya menjadi kabur. Ia tidak mampu mengenali kehadiran Tuhan, meskipun malaikat dan bahkan Yesus sendiri berdiri di hadapannya. Ia terlalu terpaku pada “kubur yang kosong” dan masa lalu yang hilang, hingga mengira Yesus hanyalah seorang penunggu taman.

Namun, perubahan besar terjadi bukan melalui penjelasan yang panjang, melainkan lewat satu sapaan yang sangat pribadi: namanya sendiri. Ketika Yesus memanggil, “Maria!”, seketika itu juga hatinya terbuka dan dukanya berubah menjadi sukacita. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa Tuhan mengenal kita secara pribadi. Ia memanggil kita satu per satu, bukan sebagai bagian dari kerumunan, melainkan sebagai pribadi yang dikasihi. Di tengah kegelapan hidup, Tuhan tetap hadir dan memanggil kita, hanya saja sering kali kita terlalu tenggelam dalam kesedihan kita sendiri sehingga sulit mendengar suara-Nya.

Ketika Yesus berkata, “Janganlah engkau memegang Aku,” Ia mengajak Maria—dan juga kita—untuk masuk dalam relasi iman yang lebih dalam. Yesus tidak lagi dapat dipahami dengan cara lama atau dibatasi oleh harapan manusiawi kita. Kebangkitan-Nya mengundang kita untuk melampaui cara pandang yang sempit dan belajar melihat-Nya sebagai Tuhan yang hidup dan hadir dalam Roh. Iman yang dewasa adalah iman yang berani melepaskan keterikatan lama dan semakin terbuka pada kehendak Allah yang lebih besar.

Akhirnya, Maria Magdalena diutus menjadi pewarta kabar sukacita. Ia tidak menyimpan pengalaman itu untuk dirinya sendiri, tetapi segera pergi dan bersaksi, “Aku telah melihat Tuhan!” Inilah juga panggilan kita. Setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, kita diutus untuk menjadi saksi-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Marilah kita belajar dari Maria untuk mengubah air mata menjadi warta sukacita, dan keputusasaan menjadi harapan. Semoga melalui hidup kita, semakin banyak orang mengalami bahwa Tuhan sungguh hidup dan terus memanggil setiap pribadi dengan penuh kasih. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Romualdus Dwi-Tingkat II

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.