VATICAN CITY (AP) — Di tengah penolakan terhadap beberapa kebijakan Vatikan oleh faksi-faksi yang lebih konservatif dalam Gereja Katolik, Paus Fransiskus, Sabtu (6/1), memperingatkan umat beriman agar tidak terpecah menjadi kelompok-kelompok “berdasarkan ide-ide kita sendiri.”

Paus mengeluarkan seruan untuk meninggalkan “ideologi gerejawi” dalam homilinya di Basilika Santo Petrus selama Misa Hari Epiphany, hari libur besar terakhir dalam Masa Natal.
Paus Fransiskus juga memperingatkan agar tidak “menikmati teori agama yang elegan” daripada mencari Tuhan di hadapan orang-orang miskin.
Bulan lalu, Paus Fransiskus memberikan izin kepada para imam untuk memberkati pasangan di luar nikah, termasuk hubungan sesama jenis, selama pemberkatan tersebut bersifat pastoral dan bukan bersifat liturgi atau bagian dari ritual keagamaan.
Beberapa uskup yang memandang Paus Fransiskus sebagai seorang progresif yang berbahaya segera menolak berkat tersebut. Hal ini mendorong Vatikan awal pekan ini untuk mengeluarkan pernyataan yang menekankan bahwa pemberkatan tersebut bukan merupakan ajaran sesat dan tidak ada dasar doktrinal untuk menolak praktik tersebut.
Paus Fransiskus dalam homili Epiphany-nya tidak menyebutkan penolakan terhadap kebijakan pemberkatan sesama jenis. Namun dia menyimpang dari teks tertulis homilinya dengan mengutip “perlunya meninggalkan ideologi gerejawi.”
Paus Fransiskus mengatakan Gereja perlu memastikan bahwa “iman kita tidak akan direduksi menjadi kumpulan ibadah keagamaan atau sekadar penampilan luar.”
“Kita menemukan Tuhan yang datang mengunjungi kita, bukan dengan menikmati teori agama yang elegan, namun dengan melakukan perjalanan, mencari tanda-tanda kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari,” terutama di wajah orang-orang miskin, tandas Paus Fransiskus.
Paus, yang berusia 87 tahun bulan lalu dan berjuang melawan masalah kesehatan tahun lalu, bertahan dengan baik selama upacara Epiphany, termasuk menyanyikan lagu-lagu Natal. Di akhir misa 90 menit itu, seorang ajudan mendorong Paus Fransiskus ke lorong tengah basilika. Paus memiliki masalah lutut kronis dan menggunakan kursi roda untuk melakukan perjalanan jarak jauh.
Dia telah mendedikasikan sebagian besar masa kepausannya selama hampir 11 tahun untuk mendorong perhatian terhadap orang-orang yang terpinggirkan, termasuk masyarakat miskin. Meskipun Gereja mengajarkan bahwa tindakan homoseksual adalah dosa, Paus Fransiskus telah melakukan upaya untuk membuat umat Katolik LGBTQ+ merasa diterima. **
Frances D’emilio (The Associated Press)
