Mengenal 2 Makna Gelar Anak Manusia dalam Perspektif Kitab Suci

Sebelum melangkah lebih lanjut untuk berbicara mengenai gelar Anak Manusia, lebih baik kita mengetahui apa itu ‘gelar’ dalam Gereja Katolik. Gelar diberikan oleh Gereja kepada tokoh-tokoh sentral dalam Gereja Katolik, seperti Yesus, Maria, dan lain-lain. Gelar adalah sebutan kehormatan yang diberikan untuk menegaskan peran dan sifat yang mengagumkan dalam peristiwa karya keselamatan Allah. Sebagian dari banyak gelar-gelar itu menjadi dogma atau kebenaran sebagai ajaran resmi yang ditetapkan oleh magisterium (kuasa mengajar) Gereja, salah satunya adalah Yesus bergelar Anak Manusia. Pembahasan ini akan didalami dengan menggunakan dasar Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Pemaknaan Gelar Anak Manusia pada Perjanjian Lama

Guna mendalami pembahasan ini, saya akan menggunakan dua kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu Kitab Daniel dan Yesaya. Kedua kitab tersebut banyak membahas mengenai gelar ‘Anak Manusia’, tetapi keduanya memiliki pemaknaan yang berbeda. Kitab Daniel ditulis pada abad 175-164 SM ketika ada penganiayaan agama oleh Seleukus. Berangkat dari konteks tersebut, Kitab Daniel ditulis bertujuan untuk mempertahankan iman orang-orang Yahudi. Situasi itu akan banyak mempengaruhi pemaknaan Daniel terhadap siapa itu ‘anak manusia’. Daniel menjelaskan bahwa ‘anak manusia’ adalah makhluk surgawi yang memperoleh otoritas dari Allah untuk menaklukan raja-raja dunia yang fana dan meraja secara kekal:

Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” (Dan. 7:13-14).

Kitab Daniel tersebut memperoleh dukungan dari penulis Kitab Mazmur yang menjelaskan bahwa ‘anak manusia’ diangkat menjadi raja dan bertakhta di sebelah kanan Allah:

“Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu.”  (Maz. 80:18).

Daniel mempresentasikan ‘anak manusia’ yang agung. Presentasi itu sangat berbeda dengan pemaknaan Yesaya mengenai ‘Hamba Yahwe’ yang menderita. Deutero-Yesaya menuliskan mengenai ‘Hamba Allah’ pada masa pembuangan. Kitab Yesaya memberi gagasan bahwa ‘anak manusia’ itu memiliki aspek penderitaan dan bahkan dibunuh untuk menebus dosa manusia (Bdk. Yes. 53: 2-10). Gagasan itu muncul dalam konteks penderitaan orang-orang Yahudi paska kehancuran Yerusalem sebagai identitas orang Yahudi dan pada masa pengasingan. Maka dari itu, penderitaan Hamba Yahwe atau penderitaan orang-orang Yahudi memiliki efek pemurnian (Bdk. Yes. 53: 4-5, 11). Kedua gagasan tersebut memiliki jurang pemaknaan yang dalam. Hal ini karena Daniel memberikan gambaran mengenai Anak Manusia yang perkasa dan  sedangkan Yesaya memberi gambaran mengenai Anak Manusia yang harus menderita. Kedua pemaknaan tersebut muncul karena konteks latar belakang dan kebutuhan dari jemaat yang berbeda pada masa itu.

Pemaknaan Gelar Anak Manusia pada Perjanjian Baru

Pemaknaan gelar Anak Manusia pada Yesus di Perjanjian Baru mengalami perkembangan makna yang signifikan. Sejatinya, Perjanjian Baru tidak banyak menggelari Yesus sebagai Anak Manusia. Bahkan, hanya Injil Markus yang banyak menggunakan gelar Anak Manusia, Injil Sinoptik lainnya dan Yohanes hanya sepintas menjelaskan gelar anak manusia. Selebihnya, gelar tersebut digunakan oleh Lukas dan Yohanes dalam kitab:

Lalu katanya: ‘Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah’” (Kisah Para Rasul 7:56)

“Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas” (Wahyu 1:13)

“Dan aku melihat: sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya.” (Wahyu 14:14)

Penginjil Markus mengenakan gelar Anak Manusia pada Yesus hendak memberi penegasan pada makna kerendah hatian Yesus. Dalam Injil Markus, Yesus menyebut Dirinya sebagai Anak Manusia karena hendak menyembuyikan identitas asli-Nya. W. Wrede (1901) menyebutkan ada tema ‘rahasia Mesianik’ dalam Injil Markus. Hal itu karena Yesus hendak menghindari popularitas dan kesalahpahaman Mesianik. Perlu diingat bahwa konteks orang Yahudi masa itu sendang menantikan Mesianik Politik guna membebaskan mereka dari para penjajah.

Gagasan dari Daniel dan Yesaya dalam Perjanjian Lama tetap memiliki sifat kontinyu dalam Injil Markus. Markus juga memberi penekanan bahwa Yesus adalah Mesias yang memiliki otoritas (dalam Bahasa Yunani: ἐξουσία atau yang dibaca eksousia) dari Allah. Untuk membuktikannya kita bisa melihat dua ayat yang dapat kita bandingkan dan menemukan kesamaannya:

“Jawab Yesus: ‘Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit’”. (Mar. 14:62)

Yang dibandingkan dengan:

“Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya.” (Dan. 7:13).

Selain itu, Markus juga memberi penekanan bahwa Yesus menderita dan disalib. Pengertian ini juga bisa kita lihat dalam dua ayat di Kitab Suci, yaitu:

“Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.” (Mar. 8:31)

Yang dibandingkan dengan:

Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya  seperti anak domba  yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. (Yes. 53:7).

Oleh karena itu, dua gagasan tersebut ada di dalam Yesus yang memiliki otoritas dari Allah dan juga sekaligus harus wafat di salib untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dua bentuk pemaknaan itu bukan berarti saling terpisah. Keduanya tetap sejalan untuk melengkapi siapa itu Mesias yang sebenarnya.

Keilahian Yesus hanya dapat dipahami melalui Roh. Hal ini dipertegas oleh Paulus yang menuliskan bahwa “tidak seorang pun dapat mengatakan “Yesus adalah Tuhan” kecuali oleh Roh Kudus” (1 Kor 12:3b). Bahkan, para murid pun tidak dapat memahami identitas Yesus yang sesungguhnya karena Roh baru turun ke atas para murid setelah Yesus wafat, tepatnya pada masa pentakosta (bdk. Kis. 2:1-13). Oleh karena itu, argumen ganda dapat dikenakan pada makna gelar Anak Manusia dalam Yesus sejauh dipahami dalam terang Roh Kudus. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa gelar Anak Manusia dalam Diri Yesus memiliki dua makna, yaitu Allah yang agung dan Allah yang menderita demi manusia. Yesus dalam Injil Markus tidak ingin makna Kemesiasan-Nya disalahartikan oleh orang-orang pada masa itu. Maka, Markus dan Paulus memberi penegasan bahwa Yesus hanya dapat dipahami secara utuh melalui daya Roh Kudus.

Oleh: Fr. Marcelinus Wahyu Setyo Aji, SCJ