Tinggalkan Zona Nyaman

Saudara-saudari terkasih, kita tahu bahwa dunia saat ini menawarkan begitu banyak kenikmatan dan kesenangan yang sering kali sangat menggoda. Bahkan muncul anggapan bahwa hidup terasa kurang lengkap bila kita tidak mengikuti perkembangan zaman. Tentu, perkembangan dunia adalah hasil karya manusia, dan itu tidak salah. Namun, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana mengendalikan diri dan bersikap bijaksana dalam menyikapi setiap perubahan.
Kenikmatan duniawi kerap membuat kita lupa akan tugas dan tanggung jawab kita sebagai umat beriman. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose (Kol 1:9–14) mengingatkan bahwa hidup kita hendaknya sejalan dengan kehendak Allah. Doa dan iman yang kita panjatkan tidak boleh berhenti hanya pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam kasih dan kepedulian nyata kepada sesama. Berdoa berarti membangun relasi cinta dengan Allah, dan relasi itu harus tampak dalam tindakan. Sayangnya, kita sering terjebak dalam zona nyaman: sibuk dengan diri sendiri, merasa cukup dengan rutinitas rohani seadanya, enggan berkorban, dan sulit peduli. Padahal, meninggalkan zona nyaman adalah bagian penting dari panggilan Kristiani, sebab hanya dengan cara itu kita bisa sungguh mengalami karya Allah yang mengubah dan menyelamatkan.
Injil hari ini menampilkan Yesus yang mengajak Simon Petrus untuk “bertolak ke tempat yang dalam” dan menebarkan jala kembali. Secara manusiawi, Petrus sudah lelah, pesimis, bahkan kecewa karena semalaman tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi karena taat pada perintah Yesus, ia justru memperoleh hasil tangkapan berlimpah, bahkan menerima panggilan baru: menjadi penjala manusia. Inilah makna panggilan Kristus—bukan soal mencari kenyamanan, melainkan keberanian untuk taat, melangkah keluar dari rasa aman, dan percaya pada rencana Allah yang melampaui pikiran manusia.
Kisah Petrus menjadi cermin bagi kita. Terkadang kita pun merasa lelah, kecewa, atau pesimis dalam hidup: doa seakan tidak didengar, usaha terasa sia-sia, atau pelayanan kurang dihargai. Namun, justru di saat-saat seperti itulah Tuhan mengajak kita untuk melangkah lebih jauh, mempercayakan diri sepenuhnya, dan tidak menyerah. Zona nyaman kita sering kali hanyalah jaring kosong. Tetapi bersama Kristus, jaring itu bisa penuh berkat.
Meninggalkan zona nyaman memang tidak mudah. Itu berarti berani melepaskan kebiasaan lama, rasa aman, bahkan reputasi dan harga diri. Tetapi justru di situlah iman kita diuji. Yesus sendiri tidak memilih jalan yang nyaman. Ia rela meninggalkan kemuliaan-Nya, lahir sebagai manusia, menderita, hingga wafat di kayu salib demi keselamatan kita.
Saudara-saudari, marilah kita berani “bertolak ke tempat yang dalam”. Jangan takut meninggalkan zona nyaman, sebab di sanalah kita menemukan panggilan sejati sebagai murid Kristus. Tuhan memang tidak menjanjikan jalan yang mudah, tetapi Ia selalu menjanjikan penyertaan dan berkat-Nya. Semoga Tuhan memberkati kita semua.
**Fr. Yulius Susilo
Tingkat 4- Calon imam KAPal
