Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3:31-36.

Berani Melangkah
Saudara-saudari terkasih, sering kali dalam hidup kita merasa bahwa Tuhan baru hadir ketika ada tanda yang nyata. Kita menunggu bukti: kesuksesan, kesembuhan instan, atau jalan keluar yang jelas, sebelum kita berani bersyukur dan percaya. Namun, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita masuk ke dalam dimensi iman yang lebih dalam, yaitu iman yang berani melangkah hanya berpegang pada janji Tuhan, bukan pada apa yang kelihatan.
Ketika Yesus kembali ke Kana, seorang pegawai istana datang dengan hati hancur karena anaknya sakit parah di Kapernaum. Jawaban Yesus terdengar tegas: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Teguran ini menyentuh kecenderungan kita yang sering menggantungkan iman pada hal-hal yang spektakuler. Padahal, Tuhan menghendaki kita bukan sekadar pencari mukjizat, tetapi pengikut yang setia—yang mengenal dan percaya kepada-Nya, bahkan tanpa bukti yang terlihat.
Puncak kisah ini terjadi ketika Yesus berkata, “Pergilah, anakmu hidup!” Pegawai itu dihadapkan pada pilihan: memaksa Yesus datang atau percaya pada sabda-Nya. Ia memilih percaya. Ia pulang tanpa membawa apa-apa secara lahiriah, tetapi hatinya penuh keyakinan. Di sinilah letak iman sejati: percaya dan taat, meskipun belum melihat hasilnya. Dan justru dalam ketaatan itulah mukjizat terjadi—anaknya sembuh pada saat yang sama ketika Yesus bersabda.
Saudara-saudari, mungkin saat ini kita pun sedang berada “di tengah jalan” seperti pegawai istana itu. Kita sudah berdoa, tetapi jawaban belum tampak. Kita sudah berharap, tetapi situasi belum berubah. Pertanyaannya, apakah kita tetap mau berjalan sambil berpegang pada janji Tuhan? Iman bukan berarti kita tahu bagaimana Tuhan akan bertindak, tetapi kita percaya kepada siapa kita bersandar. Ketika kita berani percaya, damai sejahtera akan hadir dalam hati kita, bahkan sebelum mukjizat itu terlihat. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Ignasius Seda-Tingkat I
