Mempersembahkan Kasih

Seorang pemuda selalu menolak pemberian atau hadiah. Ada banyak alasan yang dibuat untuk menolak hadiah-hadiah. Misalnya, dia mengatakan bahwa dia sudah cukup punya hadiah yang dipajang di rumahnya. Dia sudah punya banyak piala yang dia rebut dalam berbagai ajang perlombaan.


Karena itu, untuk apa dia masih menerima hadiah. Pemuda itu merasa bahwa kemampuan yang ada dalam dirinya sudah cukup menjadi hadiah yang bermakna bagi perjalanan hidupnya. Persoalannya adalah dengan menolak hadiah atau pemberian dari orang lain itu mengucilkan dirinya. Tidak ada orang yang mau mendekatinya, karena dia dianggap sebagai orang yang sombong.


Seorang teman yang pernah sangat akrab dengan pemuda itu pun memilih untuk menjauhinya. Baginya, tidak ada gunanya meladeni orang yang sombong. Dia berkata, “Sebenarnya bukan banyak sedikit hadiah yang kita peroleh. Tetapi lebih-lebih kita mesti menghargai mereka yang memberi dengan setulus hati. Maknanya itu yang penting, bukan barangnya.”

Ketulusan Hati
Pemberian yang tulus merupakan salah satu ungkapan cinta yang dalam bagi sesama. Memberi hadiah kepada mereka yang diperhatikan atau dicintai itu memiliki makna yang dalam. Karena itu, jangan hanya melihat berapa harga barang itu. Tetapi lihatlah bertapa besar kepedulian dan cinta seseorang terhadap kita.


Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk memaknai setiap pemberian atau hadiah. Pemuda itu merasa sudah berkecukupan. Dia tidak membutuhkan lagi barang-barang untuk kehidupannya. Namun dia tidak sadar bahwa pemberian atau hadiah itu memiliki makna yang dalam bagi sang pemberi.


Pemberian yang tulus selalu memiliki nilai yang tinggi yang tidak bisa dihargai dengan uang atau barang. Pemberian itu berasal dari lubuk hati yang terdalam. Pemberian seperti ini tidak dapat dibalas dengan materi. Mengapa? Karena orang sebenarnya memberikan dirinya sendiri bagi sesamanya. Suatu pemberian cinta yang dipenuhi dengan korban.


Kasih sayang yang diberikan dengan tulus senantiasa berbuahkan kasih sayang pula. Gerakannya bukan lagi menghitung seberapa berharganya suatu pemberian. Tetapi gerakannya adalah berusaha untuk membalas kasih sayang itu dengan kasih sayang yang berlimpah pula.


Orang beriman senantiasa berani memberi dirinya bagi kebahagiaan sesama. Mari kita membahagiakan sesama kita dengan memberi diri dengan setulus hati. Dengan demikian, hidup kita semakin berbuah kebaikan bagi diri dan sesama. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.