PW St. Maria Berdukacita
Ibrani 5:7–9; Mazmur 31:2–6,15–16,20;
Yohanes 19:25–27 atau Lukas 2:33–35; BcO: Hosea 9:1–14; (P)
Bunda Maria yang Setia di Kaki Salib

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, hari ini Gereja memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Peringatan ini mulai dikenal di kalangan biarawan Benediktin pada abad ke-12 dan secara resmi masuk dalam kalender liturgi Gereja Barat pada tahun 1482 dengan gelar “Bunda Berbelas Kasihan”. Kemudian, Paus Pius VII memperluas peringatannya ke seluruh Gereja Latin pada tahun 1814 sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Bunda Maria yang menolong Gereja lepas dari penindasan Napoleon.
Peringatan ini dan bacaan Injil hari ini mengajak kita menatap Maria yang berdiri teguh di kaki salib. Walaupun hatinya hancur, Maria tidak lari dari penderitaan, tetapi hadir dengan setia sampai akhir. Dukacitanya bukan tanda putus asa, melainkan ungkapan cinta yang rela menderita bersama Putranya demi keselamatan dunia. Teladan Maria ini mengajarkan kita spiritualitas kehadiran: menemani orang lain dalam penderitaannya, bukan dengan banyak kata, melainkan dengan kesetiaan dan hati yang penuh kasih. Kita pun dipanggil berjalan bersama mereka yang memikul salib hidupnya, agar dalam penderitaan tetap ada harapan akan kebangkitan.
Di kayu salib, Yesus menyerahkan Maria kepada murid yang dikasihi, dan murid itu kepada Maria. “Ibu, inilah anakmu… Inilah ibumu.” Sejak saat itu, Maria menjadi Ibu bagi seluruh Gereja, Ibu bagi setiap orang yang percaya. Ia mendampingi kita bukan hanya dalam sukacita, tetapi juga dalam duka dan salib hidup kita. Sebagai seorang ibu, Maria tahu rasanya menderita, kehilangan, sekaligus percaya penuh pada janji Allah.
Mari kita mohon doa Bunda Maria agar kita setia memikul salib hidup dan melaksanakan perutusan kita masing-masing sebagai murid Kristus. Dalam setiap pengalaman hidup, kita dipanggil untuk saling menopang, seperti Maria dan murid yang dikasihi. Kita tidak berjalan sendirian, karena ada banyak pribadi yang menemani perjalanan kita. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita.
**Fr. Petrus Bagul
Tingkat 4–Calon imam KAPal
