PW St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio)
Ezra 6:7–8,12b,14–20; Mazmur 122:1–5;
Lukas 8:19–21; BcO: Yesaya 5:8–13,17–24; (P)
Fokus dalam Pelayanan

Saudara-saudari yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, hari ini kita patut bersyukur karena Yesus mengatakan bahwa yang menjadi ibu dan saudara-saudara-Nya ialah orang-orang yang mendengarkan sabda Allah dan melakukannya. Ketika ada orang yang berkata kepada Yesus, “Ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau,” Yesus justru menjawab: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” Sekilas jawaban ini terdengar seperti suatu penolakan, seolah-olah Yesus tidak menghargai keluarga-Nya. Namun melalui perikop tersebut, kita dapat menimba inspirasi untuk dapat kita renungkan.
Pertama, hubungan darah tidak menjadi batas hubungan keluarga Allah. Dalam perikop injil Yesus mengundang kita untuk tidak menjadikan hubungan darah sebagai penghalang untuk membangun kekeluargaan. Ini membuka cara pandang kita bahwa semua yang percaya kepada Yesus disatukan untuk menjadi saudara. Sabda Allah menyatukan kita yang berbeda suku, Bahasa, dan budaya, dengan berlandaskan iman dan kepercayaan, kita dijadikan sebagai satu keluarga, yaitu keluarga Allah.
Kedua, Dari jawaban Yesuskita diundang untuk tidak melekat pada hubungan keluarga inti kita. Melalui undangan itu, Yesus menginginkan agar kita dapat fokus dalam pelayanan. Hal ini bukan berarti melupakan ikatan keluarga kita, justru melalui teladan Yesus tersebut kita diundang untuk dapat melayani lebih luas lagi. Kita semua sebagai pengikut Kristus telah dijadikan sebagai satu keluarga. Melalui ajaran Yesus hendaknya kita memahami bahwa keluarga tidak berhenti pada hubungan darah, melainkan keluarga dalam iman akan Kristus yang memiliki tujuan yang sama yaitu Kerajaan Allah.
St. Padre Pio yang kita peringati hari ini juga mengajarkan kepada kita bahwa mendengarkan suara Tuhan adalah sikap iman yang harus terus kita Hidupi. Pada akhirnya sikap iman yang dihidupi oleh Padre Pio membawanya kepada pengalaman iman yang dalam dengan Allah, ia mendapat anugerah stigmata.Meskipun ia mendapat anugerah yang istimewa, ia tetap tekun dalam mendengarkan suara Allah dan melayani orang banyak dengan sepenuh hati.
Melalui teladan Yesus dan Padre Pio, marilah kita bertanya dalam hati kita masing-masing: Apakah saya sudah sungguh mendengar firman Tuhan dan melaksanakannya? Sebab Firman Tuhan bukan hanya untuk didengar, melainkan juga harus kita wartakan melalui tindakan kita dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita dimampukan Tuhan untuk membuka hati dan pikiran agar dapat mendengar suara Tuhan dan melaksanakan sabda-Nya.
Fr. Ritma Agustio
Tingkat 1-Calon imam KAPal
