Empat Imam Dehonian Rayakan Pesta Perak di Paroki Tegalrejo Belitang: Bersyukur Atas Kesetiaan Allah

Para pestawan Rm. Heru Ismadi SCJ, Rm. Riyanto SCJ, Rm. Mulyono SCJ, dan Rm. Sukadi SCJ, bersama Mgr. Yohanes Harun dan Rm. Andreas Suparman SCJ (Superior Provinsial SCJ Indonesia) | Foto : Komsos Kapal

“25 tahun imamat, kita merayakan kesetiaan. Allah yang selalu setia dan jawaban manusia yang juga bercermin pada kesetiaan Allah. Imamat bukan untuk kemuliaan, bukan untuk keagungan diri, juga tidak untuk keluarga. Imamat untuk memuliakan Allah dan menyampaikan berkat Allah kepada manusia, menuntun manusia kepada Allah. Imamat adalah jembatan, penghubung antara Allah dengan umatNya, umat dengan AllahNya”.

Demikian diungkapkan oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono dalam homilinya pada Perayaan Perayaan Ekaristi 25 Tahun Imamat para imam dehonian, yaitu Pastor Amatus Sukadi SCJ, Pastor Florentinus Heru Ismadi SCJ, Pastor Benediktus Mulyono SCJ, Pastor Agustinus Riyanto SCJ, dan Pastor Paulus Harnasa Purba SCJ di Paroki St. Maria Tak Bernoda Tegalrejo, Belitang, pada Minggu (12/10/2025). Mereka ditahbiskan imam oleh Mgr. Aloysius Sudarso SCJ di Paroki Hati Kudus Palembang pada 12 Oktober 2000.

Foto bersama uskup, para imam, dan petugas liturgi. | Foto : Komsos Kapal

Bapa Uskup yang didampingi oleh Superior Provinsial SCJ Indonesia, Pastor Andreas Suparman SCJ, empat yubilaris, yaitu Pastor Amatus Sukadi SCJ, Pastor Florentinus Heru Ismadi SCJ, Pastor Benediktus Mulyono SCJ, Pastor Agustinus Riyanto SCJ, dan belasan imam konselebran ini juga mengungkapkan  tentang panggilan hidup bakti, menjadi imam, biarawan, dan biarawati. Menurut Bapa Uskup, ada beragam cara yang Tuhan pakai untuk menyampaikan kehendakNya kepada manusia, salah satunya dengan menggunakan anak-anak yang jujur dan benar seperti yang dikisahkan dalam Kitab Suci.

“Anak-anak Tegalrejo yang banyak ini, yang masih muda-muda, jangan segan-segan menanggapi panggilan Allah. Jangan takut untuk ambil bagian dalam karya Allah. Allah yang berkarya, bukan kita. Kalau kita ini ya tidak layaklah, tidak pantas. Tetapi kalau ambil bagian dalam karya Allah, Allah yang berkarya, semuanya bisa terjadi”, kata Bapa Uskup.

Lebih lanjut, di hadapan seribuan umat yang hadir dari berbagai paroki ini Bapa Uskup juga mengajak untuk merenungkan Seruan Apostolik Paus Leo XIV berjudul Dilexit Te (Aku Telah Mengasihi Engkau) yang dirilis pada 4 Oktober 2025, bertepatan dengan Pesta St. Fransiskus dari Assisi. Pesan sentral seruan ini adalah tentang cinta kasih ilahi dan solidaritas terhadap mereka yang lemah dan menderita.

Foto : Komsos Kapal

Menurut Mgr. Yohanes, seruan pertama Paus Leo XIV ini berakar pada ensiklik keempat mendiang Paus Fransiskus berjudul Dilexit Nos (Ia Mengasihi Kita) yang terbit pada 24 Oktober 2024 silam. Dalam Dilexit Nos Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa Kristus membuka hatiNya dan karena itu hatiNya meluapkan kasih, kasih tanpa pamrih, tanpa pilih kasih untuk menyelamatkan manusia. Kasih Kristus tanpa kenal batas.

“Hal yang sama ingin diungkapkan, Kristus mencintai manusia secara total. Paus mengundang kita untuk seperti Kristus yang meluapkan kasihNya bagi orang miskin, orang terlantar, orang tersingkir, orang yang tidak mempunyai pembela, tidak mempunyai pengharapan, orang-orang kecil. Marilah mencintai mereka. Dengan itulah kita menjadi murid-murid Kristus”, tegas Bapa Uskup.

Foto : Komsos Kapal

** RD Titus Jatra Kelana

Leave a Reply

Your email address will not be published.