JAKARTA – Gereja Katolik Indonesia akan kembali menggelar Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia atau SAGKI, yang merupakan pertemuan rutin lima tahun sekali. Setelah hampir sepuluh tahun tertunda, SAGKI kembali hadir membawa semangat pembaruan iman dan sinodalitas bersama umat. Sidang Agung dimulai tahun 2000, tetapi tahun 2020 ditiadakan karena covid.
Agar gema SAGKI semakin terdengar luas, Panitia SAGKI 2025 mengadakan Konferensi Pers SAGKI 2025 di Media Center Kantor KWI Lantai 4, dengan menghadirkan Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC (Ketua KWI) sebagai narasumber utama yang memberikan pemaparan dan penjelasan serta arah. Hadir juga Ketua Panitia Pelaksana, Rm Alfonsus Widhiwiryawan, SX serta Rm. PC. Siswantoko, Pr Sekretaris Eksekutif KWI.
Mengusung tema “Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan” dengan subtema “Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian,” SAGKI kelima ini merupakan kelanjutan dari gerak Gereja Universal. Tema ini diambil berdasarkan tiga konteks besar: Sinode Biasa Para Uskup Sedunia ke XVI tentang Sinodalitas (2021–2024): Persekutuan, Partisipasi dan Misi, Tahun Yubileum 2025, serta seruan Bapa Suci Pauss Leo XIV agar Gereja menjadi pembawa damai bagi dunia. Dengan tema tersebut di atas, SAGKI 2025 mengajak seluruh umat Katolik untuk menjadi Gereja yang mendengar, berdialog, dan berjalan bersama.
Dalam paparannya, Uskup Anton menyebutkan bahwa SAGKI merupakan pertemuan seluruh elemen Gereja Katolik Indonesia, mulai hierarki serta awam termasuk biarawan/wati serta umat. SAGKI kelima akan dihadiri utusan dari 38 keuskupan teritorial dan satu keuskupan TNI Polri. Jumlah seluruh peserta 374 orang yang terdiri dari 254 laki-laki, termasuk 41 uskup aktif dan 4 uskup emeritus serta 120 perempuan.
Selanjutnya disampaikannya bahwa SAGKI dimaksudkan untuk mempererat persaudaraan, mendiskusikan berbagai keprihatinan yang sedang dihadapi Gereja dan bangsa, merefleksikan peran yang relevan dan signifikan berhadapan dengan berbagai persoalan yang sedang dihadapi Gereja dan bangsa.
“Gereja Katolik Indonesia menyadari bahwa kita adalah persekutuan Umat Allah yang berjalan bersama secara internal di dalam Gereja dan secara eksternal bersama anak bangsa dari berbagai kalangan untukmewartakan kasih Allah bagi semua orang dan semua makhluk ciptaan. Demikian juga, Paus Leo mengajak agar Gereja Katolik menjadi gerjea sinodal yang rendah hati, terbuka, penuh kasih dan bela rasa, bukan menekankan kuasa dan otoritas melainkan kasih dan persaudaraan serta kebersamaan,” jelasnya.
Sinodalitas: kesatuan dalam keberagaman
Ketua KWI juga menyoroti bahwa di dalam berjalan bersama perlu ada solidaritas dan subsidiaritas yang menekankan sehati sejiwa, saling menghormati dan saling berkorban. “Sinodalitas ini sesungguhnya sudah dihidupi sebagai bangsa Indo yang hidup dalam kebinekaan. Kita tidak mencari kesamaan tetapi kesatuan dalam keberagaman. Mencari solusi bersama persoalan yang dihadapi bangsa dan Gereja,” tandasnya.
Maka, SAGKI juga hendaknya menjadi momen pembaruan sebaga Gereja yang rrlevan dan signifikan di manapun berada. Kiranya SAGKI bisa dimaknai refleksi pertobatan pastoral dan personal dari Gereja sendiri dari berbagai macam kekurangan yang mungkin menjadi batu sandungan dari kasus-kasus yang terjadi di dalam Gereja sendiri. Gereja perlu berkomitmen untuk menghadirkan diri sebagai pembawa kabar sukacita.

“SAGKI menekankan sikap saling mendengarkan, dialog setara, menggali dan memberdayakan potensi yang ada untuk turut mewujudkan misi Kristus di dunia, yaitu terwujudnya damai sejahtera dalam arti sesungguhnya,” ungkap Uskup Anton.
Semua memiliki suara yang sama
Dengan dialog dalam kesetaraan, semua peserta memiliki hak dan kewajiban yang sama. Orang muda memiliki suara yang sama dengan uskup senior di dalam forum SAGKI. “Semua boleh mengajukan pendapat. Usia peserta termuda 21 tahun, dan yang tertua 80 tahun semuanya memiliki hak suara yang sama. Inilah kesetaraan, tidak ada lagi hierarki dalam SAGKI. Semua blh bersuara dan mengajukan pendapat sesuai aturan mainnya,” tandasnya.
Menurut Uskup Anton, soal kesetaraan dalam bersuara ini sudah ditekankan dan dipraktikkan oleh Paus Fransiskus di Roma dalam sinode para uskup tahun 2021 -2024. Peserta termuda memiliki hak yang sama dengan Kardinal. Gereja bukan milik hierarki tetapi milik semua umat beriman Katolik. Dengan tema berjalan bersama juga mjd kesempatan untuk saling memantapkan diri sebagai murid-murid Kristus yang sehati sejiwa berbagi sukacita untuk menggaungkan damai sejahtera.
Selanjutnya, Ketua KWI juga menyebutkan bahwa Paus Leo dalam pidato perdananya urbi et orbi memulainya dengan kata ‘damai sejahtera bagi kalian semua’ yang merupakan kata-kata peneguhan Yesus sendiri bagi para murid-Nya sesudah kebangkitan-Nya. “Semoga perkataan ini juga menjadi kekuatan bagi para utusan SAGKI untuk membawa damai sejahtera, untuk membangun jembatan dialog dan berpihak pada orang-orang miskin,” harapnya
Menghidupi SAGKI dalam semangat Sumpah Pemuda
Dikatakannya juga bahwa kekuatan semangat berjalan bersama bukanlah sesuatu yang asing karena bangsa Indonesia sudah mengalami pada saat Sumpah Pemuda ketika para pemuda yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan kebersamaannya. Hal ini menjadi rangkaian sejarah yang membawa pada kemerdekaan yang kita nikmati saat ini.
Uskup Anton berharap SAGKI bisa momen menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda sehingga kita bisa semakin hidup damai di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Tentu saja hal ini harus dimulai dari sisi internal Gereja sendiri yang sehati sejiwa dan sejalan untuk mewujudkan komitmen bersama. Salah satunya bisa diwujudkan dengan kebijakan yang bisa diterima bersama seraya tetap menghargai dan menghormati bahkan mengagungkan keunikan di tempat masing-masing.

Tema ini akan menjadi isi pergumulan dan refleksi selama sepekan perayaan SAGKI 2025. Sebagai orang-orang yang dibaptis, kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam hidup dan misi Yesus. Kita akan dipandu untuk melihat sejauh mana Yesus yang kita imani kita wartakan di dalam lingkup internal gerejawi dan juga secara eksternal di tengah masyarakat lewat kesaksian hidup kita.
Harapannya, melalui dialog, diskusi dan interaksi serta kebersamaan di dalam forum SAGKI akan diperoleh berbagai pengalaman iman dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Pengalaman iman ini menjadi semangat perutusan yang nantinya disebarluaskan dan ditularkan para peserta dalam kehidupan sehari-harinya. “Para utusan setelah SAGKI selesai hendaknya menjadi dokumen hidup untuk berpartisipasi dan berkontribusi di tengah-tengah lingkungannya sendiri, untuk menjadi pewarta dan pembawa damai sejahtera,” tandas Uskup Anton

**Harini B – Freelance, Contributor for Dokpen KWI
