Suasana di Gereja Paroki Santa Maria Bunda Allah Tugumulyo, Musi Rawas pada Minggu (26/10/2025) pagi tampak ramai, berbeda dari biasanya. Pemandangan berbeda pun tampak di sekitar panti imam. Beragam hasil bumi, seperti mentimun, tomat, padi, pisang, jambu air, dan kacang panjang tampak tersusun rapi, menjadi bagian dekorasi yang semakin menambah semarak suasana.

Dalam bingkai syukur, ratusan umat yang datang dari berbagai wilayah paroki hadir menyatukan hati dalam 3 peristiwa istimewa, yaitu Peringatan Hari Pangan Sedunia 2025, Misa Perdana Romo Andreas Suko Wasono SCJ, dan Pisah Sambut Pastor Rekan. Perayaan Ekaristi ini dipimpin oleh Romo Andreas Suko SCJ didampingi 2 imam konselebran, yaitu Pastor Paroki St. Maria Bunda Allah Tugumulyo, Romo Gregorius Dedi Rusdianto SCJ dan Romo Yohanes Dwi Feri Antoro SCJ.
Dalam kotbahnya Romo Suko SCJ mengajak umat untuk merenungkan pentingnya menghidupi iman dan dalam semangat kerendahan hati mewujudkannya melalui dinamika hidup sehari-hari. Ia mengajak umat untuk belajar dari Rasul Paulus yang setia menghidupi iman dan perutusannya hingga garis akhir dan mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam hidup manusia adalah kesombongan diri.

“Harapan kita sebagai orang beriman adalah ketika kita sampai pada garis akhir kita tetap hidup di dalam iman yang baik. Tetapi untuk sampai kepada proses memelihara iman itu tantangannya adalah kesombongan,” ungkapnya.
Dehonian muda ini menjelaskan bahaya kesombongan seperti yang ditunjukkan oleh Orang-orang Farisi yang merasa diri lebih baik dari Pemungut Cukai. “Mereka sama-sama berdoa, tindakannya baik, yaitu berdoa tetapi yang membedakan mereka adalah isi dari doanya. Orang Farisi adalah gambaran pribadi yang sombong, pribadi yang congkak hatinya,” jelas Romo Suko.
Ia pun menambahkan bahwa motivasi Orang Farisi berdoa, bersedekah, dan berpuasa tidak tulus melainkan karena ingin mendapat pengakuan dan penilaian baik dari orang lain. Menurutnya, ada dua kesalahan yang dilakukan oleh Orang Farisi dalam berdoa, yaitu sombong dengan menganggap diri paling hebat dan menghina dengan menganggap rendah orang lain.

Imam asal Baradatu yang ditahbiskan di Paroki Tugumulyo pada 27 Agustus 2025 silam ini mengingatkan bahwa kesombongan rohani dapat menjadi salah satu tantangan dalam memelihara iman. “Doa kadang kala menjadi ajang kesombongan rohani, ulah kesalehan yang kita lakukan kadang kala dipengaruhi dengan motivasi tertentu seperti mencari pujian, ingin dihormati, ingin mendapat pengakuan dari orang lain. Ini adalah tantangan bagi kita untuk terus memelihara iman.”
Mengakhiri kotbahnya, seraya mengajak umat belajar dari Pemungut Cukai yang berani menyadari dan mengakui kesalahannya serta mau melihat atau menginstrospeksi diri, imam yang akan memulai perutusannya sebagai Pastor Rekan di Paroki Tugumulyo ini juga mengingatkan seluruh umat agar tidak menjadi Orang Farisi modern.
“Mari kita berupaya agar tidak menjadi Orang Farisi modern. Kita hidup sekarang tetapi sikap dan tingkah laku kita seperti Orang Farisi jaman dulu. Orang yang sombong dengan pencapaian tanpa melihat campur tangan Tuhan dan orang lain dalam diri kita, karena kita merasa diri hebat dan pandai,” pungkasnya.
Pisah Sambut Pastor Rekan
Sebelum berkat penutup, umat mengikuti acara pisah sambut Pastor Rekan. Romo Suko SCJ datang menggantikan Romo Feri SCJ yang mendapat perutusan baru sebagai pendamping di Asrama Leo Dehon Metro, Lampung. Pisah sambut ini ditandai dengan penyerahan berkas kerja dan berkas pelimpahan tugas.

Dalam sambutannya, seraya berterima kasih atas kebersamaan dan perjumpaan yang dialami, Romo Feri berpamitan dan menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurang dalam melayani umat di Tugumulyo. Imam yang berasal dari Belitang ini juga mohon doa untuk tugas pelayanan di tempat yang baru. Hal senada juga disampaikan oleh Romo Suko, di hadapan umat yang hadir ia mohon doa dan dukungan agar dapat setia serta bersungguh-sungguh dalam pelayanan.
Lomba Peringatan HPS
Usai Perayaan Ekaristi kegiatan dilanjutkan kegiatan HPS, yaitu penjurian Lomba Kue Tampah yang telah tersaji sebelum Perayaan Ekaristi dimulai. Peserta lomba adalah umat perwakilan dari 6 wilayah. Mereka menyajikan aneka kue yang terbuat dari aneka bahan non beras. Hadir sebagai juri lomba ini adalah Romo Dedi SCJ, Romo Feri SCJ, dan Romo Suko SCJ.

Rangkaian perayaan syukur ini ditutup dengan ramah-tamah dan makan siang bersama, menikmati aneka sajian yang telah tersedia dengan penuh sukacita.
**Yohanes Sarjo (Kontributor Tugumulyo-Musi Rawas)





