Renungan Harian Jumat, 9 Januari 2026

1Yoh 5:5-13; Mzm 147:12-13.14-15.19-20; Luk 5:12-16; BcO Bar. 4:5-29; (P)

Yesus hadir menyembuhkan.

Aku Mau Sembuh

Saudara-saudari terkasih, Injil hari ini menghadirkan sosok orang kusta yang disembuhkan Yesus. Ia bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga kehilangan tempat di tengah masyarakat. Ia dijauhi, dicap najis, dipaksa hidup dalam kesendirian, dan terpinggirkan. Luka yang ia tanggung bukan hanya di kulit, tetapi juga di batin luka karena penolakan dan rasa tidak layak.

Banyak orang hari ini hidup dengan luka yang serupa. Tidak selalu terlihat, tetapi terasa, seperti kegagalan, rasa bersalah, trauma, atau pengalaman ditinggalkan. Kita berusaha menutupinya dengan senyum, aktivitas, dan pencapaian. Namun ada sakit yang kita sembunyikan, bahkan dari Tuhan. Orang kusta itu melakukan sesuatu yang berani: ia mendekat kepada Yesus. Ia tidak memaksa, tidak menuntut, hanya berkata, “Tuan, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” 

Doa ini sederhana, tetapi sangat dalam. Ia jujur akan keadaannya dan sekaligus percaya pada kuasa Yesus. Di hadapan Tuhan, iman bukan soal kata-kata indah, melainkan keberanian untuk datang apa adanya. Respons Yesus sungguh mengejutkan. Ia tidak menjaga jarak. Ia tidak hanya berbicara, tetapi menyentuh. Sentuhan Yesus menembus stigma, cap negatif, memulihkan martabat, dan menyatakan bahwa kasih Allah tidak takut pada luka manusia. Ketika Yesus berkata, “Aku mau,” Ia menegaskan bahwa tidak ada dosa, kegagalan, atau masa lalu yang terlalu gelap untuk disembuhkan oleh-Nya.

Namun Injil juga mencatat satu hal penting: setelah banyak orang datang dan mukjizat terjadi, Yesus mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk berdoa. Di tengah popularitas dan tuntutan, Yesus memilih keheningan. Ia mengingatkan kita bahwa pemulihan sejati tidak berhenti pada perubahan luar, tetapi tumbuh dalam relasi yang intim dengan Bapa. Jiwa dipulihkan bukan dalam keramaian, melainkan dalam perjumpaan yang hening.

Saudara-saudari terkasih, kita boleh bertanya diri, luka apa yang selama ini kita sembunyikan? Bagian mana dari hidup kita yang kita anggap tidak layak dibawa kepada Tuhan? Orang Kusta memberi contoh keberanian untuk datang tanpa topeng. Bagi setiap orang yang datang dengan jujur dan rendah hati, Tuhan masih berkata dengan kasih yang sama: “Aku mau” dan ia menjadi sembuh. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Audio Renungan Harian

**Fr. Delho Panca-Tingkat 2

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.