PW St. Skolastika
BcE 1Raj. 8:22-23,27-30; Mzm. 84:3,4,5,10,11; Mrk. 7:1-13; BcO Kej 41:55-42:26

Hati yang Sungguh Mencari Tuhan
Saudara-saudari yang terkasih, Dalam bacaan pertama, kita menyaksikan Raja Salomo berdiri di hadapan mezbah Tuhan dengan sikap rendah hati. Ia menyadari bahwa bahkan langit yang tertinggi pun tidak mampu memuat kebesaran Allah, apalagi Bait Allah yang dibangunnya. Namun, justru dalam kesadaran akan keterbatasan itu, Salomo berdoa dengan penuh harapan, memohon agar Tuhan berkenan mendengarkan doa umat-Nya. Sikap Salomo mengajarkan kita bahwa kerendahan hati merupakan pintu masuk bagi doa yang sejati.
Dari kisah ini kita belajar sesuatu yang indah dan menguatkan: Tuhan yang Mahabesar tidak jauh dari kita, tetapi justru mau mendengarkan doa-doa kita yang kecil dan sederhana. Bukan karena kita layak atau sempurna, melainkan karena Dia Maha Pengasih dan setia kepada umat-Nya. Allah berkenan hadir dan mendengarkan setiap hati yang datang kepada-Nya dengan tulus.
Dalam bacaan Injil, Yesus menegur dengan keras para ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka sangat tekun menjaga tradisi dan aturan lahiriah—tentang cara mencuci tangan, membasuh cawan dan kendi—namun hati mereka justru jauh dari Allah. Bahkan, dengan dalih agama, mereka mengabaikan tanggung jawab untuk menghormati dan membantu orang tua mereka sendiri. Karena itu Yesus mengutip Nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”
Peringatan Yesus ini ditujukan juga kepada kita. Jangan sampai hidup beriman kita berhenti pada hal-hal lahiriah semata. Kita bisa rajin ke gereja, setia mengikuti doa dan tradisi, tetapi hati kita kosong atau bahkan dipenuhi sikap tidak adil, tidak peduli, dan tidak mengasihi sesama. Iman sejati selalu menuntut kesatuan antara apa yang kita lakukan dan apa yang kita hidupi di dalam hati.
Pada hari ini Gereja juga memperingati Santa Skolastika, saudari kembar Santo Benediktus, sebagai teladan iman yang hidup dan tulus. Skolastika mencintai Tuhan dengan sepenuh hati dan mengabdikan hidupnya dalam doa serta pelayanan melalui komunitas biarawati yang ia dirikan. Kisah pertemuan terakhirnya dengan Santo Benediktus menunjukkan bahwa doa yang lahir dari hati yang murni sungguh berkenan di hadapan Tuhan. Skolastika tidak hanya taat pada aturan, tetapi memiliki kerinduan mendalam akan persekutuan dengan Tuhan dan sesama. Dari teladannya, kita diajak untuk membangun iman yang tidak hanya tampak di luar, tetapi sungguh berakar di dalam hati. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yohanes Jumadi-Tingkat IV
Foto: Pinterest
