Yer. 17:5-10; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 16:19-31; BcO Kel. 18:13-27; (U)

Membangun Kepekaan
Saudara-saudari terkasih, di tengah perjalanan Masa Prapaskah ini, kisah Lazarus dan si orang kaya dalam Injil hari ini menjadi cermin yang tajam bagi kita. Kita sering memaknai Prapaskah dengan pantang dan puasa. Itu baik. Namun kisah ini mengingatkan bahwa inti puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan membuka hati. Si orang kaya tidak dihukum karena ia kaya, tetapi karena hatinya tertutup. Ia terlalu sibuk dengan pesta dan kenyamanannya, sampai tidak peduli pada Lazarus yang terbaring di depan pintunya.
Kisah ini menunjukkan bahwa “jurang” antara si orang kaya dan Lazarus sebenarnya sudah terbentuk sejak mereka masih hidup. Jurang itu bernama ketidakpedulian. Tanpa sadar, kita pun bisa membangun jurang yang sama. Saat kita terlalu asyik dengan diri sendiri dan mengabaikan orang di sekitar kita. Saat kita enggan menyapa, sulit memberi perhatian, atau menunda berbuat baik. Puasa kita akan kehilangan makna jika hanya mengosongkan perut, tetapi tidak melunakkan hati.
Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dan bertanya: adakah Lazarus di sekitar saya yang selama ini saya abaikan? Mungkin bukan orang yang benar-benar miskin secara materi, tetapi mereka yang haus akan perhatian, pengampunan, atau dukungan. Tuhan memberi kita waktu ini sebagai kesempatan untuk berubah, untuk membuka kembali pintu hati yang mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan, gengsi, atau ego.
Mari kita jadikan sisa Masa Prapaskah ini sebagai perjalanan untuk melembutkan hati. Belajar lebih peka, lebih peduli, dan lebih murah hati. Dengan meruntuhkan tembok ego hari ini, kita sedang menyiapkan diri untuk bangkit bersama Kristus pada Hari Paskah. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Heribertus Dino-Tingkat 1
Foto: Pinterest
