Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Luk. 15:1-3,11-32; BcO Kel. 20:1-17;

Kembali ke Rumah
Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini Yesus mengisahkan tentang seorang bapa yang penuh kasih. Ketika anaknya pulang, ia tidak memarahinya, tetapi justru berlari menyambutnya, memeluknya, dan memakaikan jubah terbaik. Sang bapa rela menanggalkan gengsi dan martabatnya demi memulihkan martabat anaknya. Gambaran ini menunjukkan betapa besar kasih Allah kepada kita.
Kisah Anak yang Hilang menjadi cermin yang jujur di Masa Prapaskah ini. Kita mungkin pernah seperti si bungsu: ingin bebas, ingin berjalan sendiri, dan merasa hidup adalah milik kita sepenuhnya. Kita menjauh dari Tuhan dan mengejar kesenangan sesaat. Namun ketika kita jatuh dan merasa hampa, barulah kita sadar bahwa rumah Bapa adalah tempat yang paling aman. Prapaskah mengajak kita berani berkata, “Aku akan bangkit dan kembali kepada Bapa.”
Namun kita juga perlu waspada agar tidak menjadi seperti si sulung. Ia tetap tinggal di rumah, rajin bekerja, dan taat, tetapi hatinya penuh kekecewaan dan iri. Ia sulit menerima adiknya yang kembali. Kadang kita pun bisa merasa lebih baik karena rajin berdoa, puasa, atau aktif di gereja, lalu tanpa sadar menghakimi orang lain. Prapaskah mengingatkan bahwa kesalehan tanpa kasih akan menjadi kering dan kosong.
Keindahan kisah ini terletak pada sang bapa yang berlari menyambut. Tuhan tidak menunggu kita dengan kemarahan, tetapi dengan pelukan. Ia ingin mengganti “pakaian kotor” dosa kita dengan jubah rahmat-Nya. Di hadapan-Nya, kita bukan sekadar pelayan atau pendosa, melainkan anak yang dikasihi.
Karena itu, marilah kita sungguh pulang kepada Tuhan. Jika kita merasa seperti si bungsu, jangan takut kembali. Jika kita merasa seperti si sulung, mohonlah hati yang lembut dan penuh belas kasih. Semoga pada Hari Paskah nanti, kita sungguh mengalami sukacita karena telah membiarkan diri dipeluk oleh kasih Bapa. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Romualdus Dwi-Tingkat II
Foto: Pinterest
