Paus Leo: Semoga Senjata Terdiam di Iran

Ledakan terlihat terjadi setelah serangan menghantam Kilang Minyak Teheran. | Foto: AFP atau pemegang lisensi

Pada doa Angelus Minggu siang di Lapangan Santo Petrus, Paus Leo mengajak sekitar 15.000 peziarah yang hadir untuk memohon perdamaian bagi kawasan Timur Tengah. Ia mengungkapkan harapan agar “deru bom berhenti, senjata terdiam, dan ruang dialog terbuka sehingga suara rakyat dapat didengar.”

Seusai memimpin doa Angelus di St. Peter’s Square, Paus Leo menyinggung situasi yang terus memburuk di Timur Tengah. Ia mengatakan bahwa kabar yang datang dari kawasan tersebut “menimbulkan keprihatinan yang mendalam.” Secara khusus, ia menyoroti kekerasan dan kehancuran yang terjadi di Iran serta suasana kebencian dan ketakutan yang meluas di wilayah tersebut.

Paus juga menyatakan kekhawatirannya bahwa konflik yang semakin memanas dapat menyeret negara-negara di sekitarnya. Ia menyebut secara khusus Lebanon, yang dikhawatirkan kembali “tenggelam dalam ketidakstabilan” jika situasi tidak segera mereda.

Karena itu, Paus mengajak umat beriman untuk berdoa agar deru bom berhenti dan senjata terdiam, sehingga terbuka ruang dialog yang memungkinkan suara masyarakat didengar dan perdamaian dapat diupayakan. Ia mempercayakan doa tersebut kepada Maria, Ratu Damai, seraya memohon agar Bunda Maria mendoakan mereka yang menderita akibat perang serta menuntun hati manusia menuju jalan rekonsiliasi dan harapan.

Perdamaian Tidak Dibangun dengan Ancaman

Pekan sebelumnya, dalam doa Angelus, Paus Leo juga telah menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap situasi di Timur Tengah dan Iran. Menurutnya, stabilitas dan perdamaian tidak pernah dibangun melalui ancaman atau penggunaan senjata, yang hanya menabur kehancuran, penderitaan, dan kematian.

Sebaliknya, Paus menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat lahir dari dialog yang jujur, rasional, dan bertanggung jawab. Ia memperingatkan bahwa dunia bisa menghadapi tragedi besar jika kekerasan terus meningkat tanpa kendali.

Menghadapi kemungkinan tersebut, Paus menyerukan kepada semua pihak yang terlibat agar mengambil tanggung jawab moral untuk menghentikan spiral kekerasan sebelum berubah menjadi jurang kehancuran yang tak dapat diperbaiki.

Pada akhirnya, Paus kembali mengajak seluruh bangsa untuk kembali ke jalur diplomasi. Ia berharap agar diplomasi mendapatkan kembali perannya demi kebaikan bangsa-bangsa yang merindukan hidup berdampingan secara damai, berlandaskan keadilan. Ia pun menutup seruannya dengan ajakan sederhana namun mendalam: “Marilah kita terus berdoa untuk perdamaian.”

**Vatican News

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-03/pope-leo-angelus-iran-lebanon-weapons-silent-peace.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.