HARI MINGGU PRAPASKAH IV
1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41 (panjang) atau Yoh. 9:1,6-9,13-17,34-38 (singkat). BcO Im. 8:1-17; 9:22-24.

Melihat dengan Hati, Hidup dalam Terang
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita memasuki Minggu Keempat Prapaskah yang juga dikenal sebagai Minggu Laetare, yaitu hari yang mengundang kita untuk bersukacita di tengah perjalanan tobat. Sukacita ini bukan karena masa puasa segera berakhir, melainkan karena kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Di tengah kerapuhan dan kegelapan hidup, Tuhan tetap bekerja membuka mata hati kita agar mampu melihat terang kasih-Nya yang menuntun langkah hidup kita.
Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Nabi Samuel diutus untuk memilih raja yang baru bagi Israel. Ketika melihat para putra Isai, Samuel sempat terpikat oleh penampilan dan postur yang gagah. Namun Tuhan mengingatkannya bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, sedangkan Tuhan melihat hati. Karena itulah Daud yang tampak sederhana justru dipilih oleh Tuhan. Kisah ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: seberapa sering kita menilai orang lain hanya dari penampilan, status, atau apa yang tampak di luar?
Dalam Injil, Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Mukjizat ini bukan hanya tentang kesembuhan fisik, tetapi juga perjalanan menuju terang iman. Awalnya orang itu hanya mengenal Yesus sebagai seorang manusia, lalu sebagai nabi, dan akhirnya ia mengakui Yesus sebagai Tuhan. Proses ini menunjukkan bahwa melihat secara rohani sering kali merupakan perjalanan yang bertahap, sebuah proses di mana Tuhan perlahan-lahan membuka mata hati kita.
Sebaliknya, kaum Farisi yang merasa diri sudah tahu dan sudah melihat justru menjadi semakin buta. Mereka terpaku pada aturan dan penilaian mereka sendiri sehingga tidak mampu mengenali karya Tuhan yang nyata di hadapan mereka. Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa dahulu kita hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kita telah menjadi terang di dalam Tuhan. Karena itu kita dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak terang, dengan sikap yang penuh kebaikan, keadilan, dan kebenaran.
Saudara-saudari terkasih, masa Prapaskah ini adalah kesempatan untuk memohon agar Tuhan menyembuhkan kebutaan hati kita. Seperti Daud yang dipilih karena hatinya, dan seperti orang buta yang akhirnya dapat melihat, kita pun diajak untuk membuka diri pada terang Tuhan. Dengan mata hati yang baru, kita dapat melihat kasih Tuhan dalam setiap peristiwa hidup dan melangkah dengan penuh kepercayaan sambil berkata: “Tuhan adalah gembalaku, aku takkan berkekurangan.” Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Alexander Krisman-Tingkat VI
Foto: Pinterest
