Sinergi atau Mati? Pendidikan Katolik Sumatera di Persimpangan Jalan: Introspeksi Pedas di Wismalat Podomoro

Sebuah peringatan keras sekaligus ajakan refleksi mendalam menggema di Kapel Wismalat Podomoro, Banyuasin, Rabu (11/3/2026). Di tengah megahnya sejarah sekolah Katolik, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto, melontarkan pertanyaan retoris yang membakar semangat sekaligus mengusik zona nyaman para pengelola pendidikan: Masihkah kita relevan, atau hanya sekadar menjual nama besar masa lalu?

Membuka Pertemuan Komisi Pendidikan dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Regio Sumatera melalui Perayaan Ekaristi, Romo Yohanes tidak basa-basi. Di hadapan 40 utusan sekolah dan perguruan tinggi Katolik se-Sumatera, ia menegaskan bahwa dunia pendidikan sedang dikepung badai perubahan, mulai dari regulasi yang berubah-ubah hingga persaingan global yang kian ketat.

Peserta Pertemuan Komdik regio Sumatera. | Foto: Komsos KAPal

Musuh Terbesar Ada di Dalam!

Namun, kejutan sesungguhnya bukan pada tantangan eksternal. Dengan nada bicara yang lugas, Romo Kristianto membongkar fakta pahit: musuh terbesar pendidikan Katolik saat ini justru datang dari “dalam rumah” sendiri.

“Inilah saatnya kita jujur. Sejauh mana SDM kita masih punya integritas dan dedikasi? Apakah kita masih memperjuangkan karakter, atau sekadar menjalankan rutinitas?” tegasnya.

Imam yang pernah berkarya sebagai Pastor Paroki St. Yoseph Palembang ini juga menyoroti fenomena “jalan sendiri-sendiri” yang sering kali menjangkiti lembaga pendidikan meski berada dalam satu payung wilayah gerejawi. Tanpa sinergi yang nyata, nama besar sekolah Katolik terancam hanya menjadi catatan sejarah yang usang.

Bukan Sekadar Wacana Indah

Mengusung tema sentral “Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera,” pertemuan ini diposisikan sebagai “ruang perang” ide untuk melahirkan langkah konkret, bukan sekadar menghasilkan dokumen indah yang berakhir di laci meja.

Peserta Pertemuan Komdik regio Sumatera. | Foto: Komsos KAPal

Hingga Sabtu mendatang, para peserta dipaksa untuk keluar dari cara pandang lama. Mereka ditantang untuk membedah integritas SDM dengan menguji kembali komitmen pengajar dan pengelola, menghancurkan ego sektoral dengan menghentikan kebiasaan berjalan sendiri-sendiri antarlembaga, dan menciptakan standar mutu baru. Agar sekolah Katolik tetap menjadi magnet bagi masyarakat luas di tengah gempuran sekolah-sekolah modern lainnya.

Misi Besar: Sehati dengan Sang Guru

Pertemuan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah misi iman. Romo Kristianto mengajak seluruh peserta untuk kembali “sehati dan sevisi” dengan Kristus, Sang Guru Sejati.

Dunia pendidikan Katolik Sumatera kini sedang diuji: apakah mereka akan tetap menjadi pelopor yang berkarakter, atau perlahan tenggelam karena enggan berbenah diri? Jawaban itu akan dirumuskan dalam diskusi maraton beberapa hari ke depan.

**Diakon Bednadetus Aprilyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published.