“Semoga sinergi yang terbangun dalam pertemuan ini dapat dijalankan dengan serius dan penuh antusiasme. Saya meyakini bahwa kesepakatan dan langkah strategis yang telah dirumuskan siap untuk diwujudkan, guna membangun lembaga pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan relevan. Dengan demikian, kita dapat melangkah bersama dalam semangat yang sehati dan sevisi dalam pelayanan seturut teladan Yesus Kristus.”
Demikian disampaikan oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang (KAPal), Romo Yohanes Kristianto dalam pengantarnya pada perayaan Ekaristi penutup Pertemuan Komisi Pendidikan (Komdik) dan Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Regio Sumatera di Kapel Wismalat Podomoro, Banyuasin, Jumat (13/3/2026) malam.

Hadir mendampingi sebagai konselebran adalah Sekretaris Eksekutif Komdik KWI, Romo Antonius Vico Christiawan SJ; Ketua Komdik Regio Sumatera, Romo Agustinus K.G. Faran; Ketua Komdik KAPal, Romo Gading Johanes Sianipar; dan Ketua Panitia, Romo Dionisius Anton Liberto.
Perayaan Ekaristi tersebut diikuti oleh 40 utusan Komisi Pendidikan keuskupan, MPK, yayasan pendidikan Katolik, dan pimpinan perguruan tinggi se-Regio Sumatera yang mengusung tema Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera.
Semangat untuk Terus Bergerak
“Gereja yang hidup bukanlah Gereja yang berhenti pada wacana, melainkan Gereja yang terus bergerak.” Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Ketua Komdik KWI, Romo Antonius Vico Christiawan, SJ, dalam homilinya di hadapan para pegiat pendidikan Katolik se-Regio Sumatera.

Bagi Romo Vico, sikap pasif di tengah tantangan pendidikan bukanlah jati diri seorang murid Kristus. Pertemuan komunitas pendidikan Katolik di Regio Sumatera kali ini menjadi bukti nyata bahwa para pendidik tidak sekadar berdiskusi, tetapi memiliki semangat bersama untuk merumuskan solusi konkret bagi masa depan pendidikan yang berakar pada kasih kepada Tuhan dan Gereja.
Waspada Terhadap “Berhala” Modern
Lebih lanjut, Romo Vico juga mengajak para pengelola sekolah untuk waspada terhadap “berhala” modern dengan mengacu pada pesan Nabi Hosea. Ia mengingatkan agar lembaga pendidikan tidak terjebak dalam dua kesalahan fatal, yaitu terlalu mengagungkan prestasi akademik, peringkat, atau teknologi hingga melupakan esensi pembinaan iman dan menggantungkan keselamatan dan jati diri pada sistem atau kekuatan luar yang justru bisa mengikis identitas asli sebagai sekolah Katolik.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kembali menimba kekuatan dari Sabda Tuhan dan tradisi Gereja. Seperti halnya kisah lima roti dan dua ikan atau mukjizat di Kana, Tuhan mampu mengubah keterbatasan manusia menjadi berkat yang melimpah melalui semangat kolaborasi yang tulus.
Langkah Strategis
Semangat kebersamaan tersebut akhirnya diterjemahkan ke dalam langkah-langkah strategis yang menjadi rekomendasi konkret pertemuan ini. Komisi Pendidikan Regio Sumatera sepakat untuk membentuk Tim Regio yang mengintegrasikan Komdik, MPK, dan Sentral Belajar Guru, serta melakukan revisi Pedoman Komisi Pendidikan Regio Sumatera agar lebih adaptif. Selain itu, ditegaskan pula komitmen bersama untuk mengimplementasikan Instrumen Evaluasi Diri Sekolah sesuai standar Komdik KWI.


Sebagai penutup dari rangkaian konsolidasi ini, Keuskupan Tanjungkarang telah ditetapkan sebagai tuan rumah bagi pertemuan tahun 2027. Perjumpaan tersebut akan menjadi kesempatan untuk memastikan pendidikan Katolik di Sumatera terus bergerak maju dalam satu napas pelayanan yang bermutu dan relevan.
**Diakon Bednadetus Aprilyanto
