Renungan Harian Selasa, 17 Maret 2026

Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16; BcO Im. 19:1-18,31-37.

Teruslah melangkah.

Bangkit dari Kelumpuhan Hati

Saudara-saudari terkasih, bayangkan hidup dalam penantian selama 38 tahun, penuh kekecewaan yang berulang hingga putus asa menjadi kebiasaan. Itulah keadaan orang lumpuh di kolam Betesda. Ia terbiasa hidup dalam ketidakberdayaan, menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah terjadi. Dalam hidup kita pun kadang ada “kelumpuhan” yang serupa. Mungkin bukan secara fisik, tetapi hati kita menjadi kaku karena luka lama, rasa bersalah, atau kebiasaan buruk yang terasa sulit diubah. Lama-kelamaan kita menjadi terbiasa dengan keadaan itu dan perlahan kehilangan harapan.

Menariknya, Yesus tidak langsung menyembuhkan orang itu. Ia terlebih dahulu bertanya, “Maukah engkau sembuh?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Yesus ingin membangkitkan kembali kehendak yang sudah hampir padam dalam diri orang itu. Namun jawabannya justru berupa keluhan: ia menyalahkan keadaan dan orang lain yang tidak membantunya masuk ke kolam. Bukankah kita pun sering seperti itu? Kita terlalu sibuk mencari alasan atas keadaan kita, sehingga tidak melihat kesempatan pemulihan yang Tuhan tawarkan.

Tanpa memperpanjang perdebatan, Yesus berkata dengan tegas, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Seketika itu juga orang itu sembuh. Rantai keputusasaan yang mengikatnya selama puluhan tahun pun terputus. Namun anehnya, mukjizat itu justru menimbulkan kritik dari orang-orang yang lebih peduli pada aturan hari Sabat daripada pada keselamatan manusia. Dari sini kita diingatkan bahwa kasih Tuhan selalu melampaui kekakuan aturan manusia. Bagi Tuhan, memulihkan kehidupan manusia jauh lebih penting daripada sekadar formalitas.

Perintah Yesus untuk “mengangkat tilam” memiliki makna yang sangat simbolis. Tilam itu adalah tempat di mana ia selama ini terbaring dalam kelemahan. Dengan mengangkatnya, ia tidak lagi dikuasai oleh masa lalunya, melainkan menjadikannya sebagai tanda kemenangan. Begitu juga dengan kita: pengalaman pahit, kegagalan, atau luka masa lalu tidak harus menjadi beban yang menindih hidup kita. Dalam tangan Tuhan, semuanya bisa menjadi kesaksian bahwa kasih-Nya mampu memulihkan hidup manusia.

Hari ini Yesus juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita: “Maukah engkau sembuh?” Tuhan tidak memaksa kita, tetapi Ia mengundang kita untuk bangkit dari keputusasaan dan melangkah dalam iman. Ia mungkin tidak selalu mengubah situasi kita secara instan, tetapi Ia selalu memberi rahmat agar kita mampu berdiri dan berjalan kembali. Maka marilah kita berani bangun dari “tilam” keputusasaan kita, mengangkatnya sebagai tanda kemenangan, dan melangkah bersama Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

**Fr. Oliver Dito-Tingkat I

Foto: Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.