Kis. 6:8-15; Mzm. 119:23-24,26-27,29-30; Yoh. 6:22-29.

Sungguh Percaya
Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini kita melihat bagaimana orang banyak mencari Yesus setelah mengalami mukjizat penggandaan roti. Namun Yesus mengetahui bahwa banyak dari mereka datang bukan karena sungguh mengenal siapa Dia, melainkan karena mereka telah kenyang. Karena itu, Yesus mengarahkan mereka pada hal yang lebih dalam: bukan sekadar mencari makanan yang fana, tetapi melakukan kehendak Allah, yaitu percaya kepada Dia yang diutus-Nya.
Sabda ini menjadi cermin bagi kehidupan kita, khususnya bagi kaum muda yang mulai merasakan panggilan Tuhan, termasuk panggilan menjadi imam. Sering kali panggilan itu berawal dari hal-hal sederhana—kekaguman melihat pelayanan di altar atau keinginan untuk berbuat baik bagi Gereja. Namun Tuhan tidak berhenti di situ. Ia mengundang kita untuk melangkah lebih dalam, dari sekadar ketertarikan lahiriah menuju iman yang sungguh percaya dan mencintai-Nya.
Teladan Santo Stefanus dalam bacaan pertama menunjukkan kepada kita bagaimana iman yang sejati diwujudkan. Ia tetap setia dan berani bersaksi, bahkan di tengah penolakan dan penderitaan. Wajahnya digambarkan seperti wajah malaikat, tanda bahwa hidupnya dipenuhi oleh Allah. Ini mengingatkan kita bahwa panggilan besar selalu bertumbuh dari kesetiaan dalam hal-hal kecil: doa yang tekun, kejujuran, kepedulian, dan keberanian melakukan yang benar setiap hari.
Saudara-saudari, Yesus mengajak kita untuk mencari sesuatu yang lebih dalam daripada hal-hal yang sementara. Ia mengundang kita untuk percaya dan berjalan bersama-Nya. Dari iman yang sederhana namun setia itulah, Tuhan menumbuhkan panggilan yang besar dalam hidup kita. Semoga kita berani menanggapi undangan itu dengan hati terbuka, sehingga hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Antonius Vianto Jefri Ansa R.G-Tingkat 1
