PF St. Petrus Chanel, Imam dan Martir; St. Louis-Marie Grignion de Montfort, Imam
Kis. 11:19-26; Mzm. 87:1-3,4-5,6-7; Yoh. 10:22-30.

Hidup Baru
Saudara-saudari terkasih, bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk kembali merefleksikan makna hidup baru yang lahir dari kebangkitan Kristus. Kebangkitan-Nya bukan sekadar peristiwa masa lalu yang dikenang setiap tahun, melainkan sumber kekuatan yang terus bekerja dan menghidupkan kita dalam keseharian. Kristus yang bangkit hadir dan memberi daya bagi setiap langkah hidup kita, terutama ketika kita menghadapi berbagai tantangan dan kelemahan.
Hari ini Gereja juga mengajak kita belajar dari teladan Santo Petrus Chanel. Ia menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan sering kali diwujudkan dalam hal-hal yang sederhana. Ia bukan tokoh yang langsung membuat perubahan besar yang menggemparkan, melainkan seorang imam yang dengan sabar dan penuh kasih melayani umat di pulau kecil Futuna. Melalui kelembutan hati dan perhatian yang tulus, ia menanam benih kasih. Meskipun akhirnya mengalami kemartiran, benih itu justru bertumbuh dan mengubah banyak hati setelah kematiannya.
Kisah hidupnya mengingatkan kita bahwa menjadi saksi Kristus yang bangkit tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar yang terlihat. Dunia justru membutuhkan kesaksian yang sederhana namun tulus: kata-kata yang lembut, sikap penuh perhatian, dan tindakan kecil yang dilakukan dengan setia setiap hari. Masa Paskah pun bukan berarti hidup tanpa kesulitan. Seperti Santo Petrus Chanel, kita mungkin menghadapi penolakan, penderitaan, atau ketidakpastian, tetapi iman kita diteguhkan oleh keyakinan bahwa Kristus telah menang atas kematian.
Saudara-saudari terkasih, kita diajak untuk bertanya: apakah dalam hidup sehari-hari kita sudah menghadirkan “wangi” kasih Kristus bagi sesama? Melalui sapaan sederhana, perhatian kecil, dan bantuan yang tulus, kita dapat menjadi saksi Paskah yang nyata. Semoga teladan Santo Petrus Chanel menguatkan kita untuk setia dalam hal-hal kecil, sehingga melalui hidup kita, kasih Tuhan semakin dirasakan oleh banyak orang. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
**Fr. Yusta Pawe–Tingkat I
