Hari Kesepuluh di Afrika: Sukacita yang Menari di Tengah Hujan

Pada hari terakhir perjalanan apostoliknya di Afrika, Paus Leo menutup kunjungannya dengan cara yang sangat menyentuh dan penuh makna. Di kota Bata, Bata, ribuan kaum muda dan keluarga berkumpul di sebuah stadion untuk bertemu dengannya. Malam itu berubah menjadi momen yang tak terlupakan ketika hujan turun dengan deras. Alih-alih membubarkan kerumunan, hujan justru menjadi bagian dari sukacita: banyak anak muda tetap bertahan, menari bersama di bawah guyuran air, menantikan kedatangan Paus dengan penuh semangat.

Ribuan orang berkumpul di bawah hujan untuk melihat Paus Leo di Stadion Bata (Vatican Media)

Ketika Paus akhirnya tiba, suasana yang sudah meriah semakin memuncak. Sorak sorai menggema, tidak hanya untuk menyambutnya, tetapi juga untuk mereka yang naik ke panggung, berbagi kisah iman dan menampilkan tarian tradisional. Dalam pesannya, Paus menekankan bahwa cahaya paling terang bukanlah lampu stadion, melainkan yang terpancar dari wajah, mata, dan senyum mereka. Ia mengajak semua yang hadir untuk hidup dalam harmoni dan menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kemampuan untuk memberi, bahkan di tengah situasi apa pun.

Para peserta bersorak menyambut Paus dan para pembicara lainnya (Vatican Media)

Sebelumnya pada hari yang sama, Paus mengunjungi sebuah penjara di Bata, yang dikenal dengan kondisi yang keras. Di tengah hujan yang mulai turun sejak siang hari, ia menyampaikan pesan yang penuh harapan kepada para narapidana. Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun dikecualikan dari kasih Allah. Setiap orang, dengan segala latar belakang, kesalahan, dan penderitaannya, tetap berharga di mata Tuhan. Pesan ini menjadi pengingat kuat bahwa belas kasih Allah melampaui segala batas manusia.

Para narapidana berbaris untuk mendengarkan Paus Leo (Vatican Media)

Perjalanan hari itu juga membawa Paus ke kota Mongomo, dekat perbatasan dengan Gabon. Di sana, ia memimpin Misa di Basilika Maria Dikandung Tanpa Noda, gereja terbesar kedua di Afrika. Kedatangannya disambut meriah dengan kembang api dan ribuan umat yang berkumpul. Dalam homilinya, ia mengingatkan bahwa kekayaan alam yang dimiliki negara tersebut adalah anugerah Tuhan yang seharusnya menjadi berkat bagi semua, bukan hanya segelintir orang.

Kembang api menyambut Paus Leo di Basilika Maria Dikandung Tanpa Noda di Mongomo (Vatican Media)

Paus juga menyinggung kerinduan mendalam masyarakat akan masa depan yang penuh harapan. Namun, ia menegaskan bahwa masa depan itu tidak bisa hanya dinantikan secara pasif. Harapan harus dibangun bersama, dengan kerja sama dan dengan rahmat Allah. Hari itu menjadi penutup yang indah: dari penjara hingga basilika, dari hujan hingga tarian, semuanya menyatu dalam satu pesan besar—bahwa harapan, kasih, dan sukacita selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah keterbatasan dan tantangan hidup.

**Joseph Tulloch – Bata, Equatorial Guinea

Diterjemahkan dan disadur kembali oleh Diakon Bednadetus Aprilyanto dari https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-04/pope-leo-africa-journey-bata-mongomo-young-prison-hope.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.