Tingkatkan Spiritualitas Pelayanan, Petugas Liturgi Paroki St. Yoseph Palembang Refleksikan Teladan Santo Yosef

Romo Gading memberikan Rekoleksi bagi Petugas Liturgi Gereja Katolik Paroki St. Yoseph Palembang. | Foto: Dokumen Pribadi

Semangat pelayanan yang tulus dan mendalam menjadi fokus utama dalam kegiatan Rekoleksi Petugas Liturgi Gereja Katolik Paroki St. Yoseph Palembang yang mengusung tema Mencintai Tugas Pelayanan. Kegiatan yang diikuti oleh para Prodiakon, Pemazmur, dan Lektor serta menghadirkan Romo Gading Johanes Sianipar sebagai narasumber ini diselenggarakan di Gedung Serbaguna St. Louis, Sukabangun, Palembang pada Jumat (1/5/2026). Rekoleksi dengan materi utama tentang spiritualitas Santo Yosef dan esensi pelayanan liturgi ini menjadi sarana pembinaan rohani untuk memperbarui dedikasi para pelayan awam.

Meneladani Keheningan dan Kesetiaan Santo Yosef

Dalam sesi pertama, Romo Gading mengajak peserta mendalami sosok Santo Yosef melalui berbagai dokumen Gereja, seperti Quemadmodum Deus (Dekrit Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1870 yang menyatakan Santo Yosef sebagai Pelindung Gereja Universal) hingga Patris Corde (Surat Apostolik Paus Fransiskus pada Peringatan 150 Tahun Proklamasi Santo Yosef sebagai Pelindung Gereja Universal). Ia menekankan bahwa meskipun Santo Yosef tidak pernah berbicara dalam Kitab Suci, tindakannya menunjukkan ketaatan yang radikal.

“Santo Yosef mengajarkan kita bahwa dunia tidak hanya membutuhkan suara yang keras, tetapi hati yang tulus dan setia. Dalam diam, ia mampu melindungi dan menghidupkan harapan. Inilah esensi pelayan liturgi, hadir untuk menghadirkan keselamatan bagi umat melalui tugas-tugas sederhana yang dilakukan dengan setia,” terang Romo Gading.

Menuju Gereja Sinodal

Koordinator Bidang Liturgi Paroki St. Yoseph, Yohanes Suwarto, dalam pembukaannya menegaskan bahwa rekoleksi ini adalah momentum untuk mewujudkan Gereja Sinodal. Ia mengajak seluruh petugas untuk bangkit dan bergerak bersama dalam persekutuan, partisipasi, dan misi.

Salah satu peserta rekoleksi menyampaikan hasil refleksinya. | Foto: Dokumen Pribadi

“Kita tidak dapat berjalan sendiri. Pelayanan kita harus menyentuh seluruh lapisan umat, mulai dari KBG hingga tingkat keuskupan. Iman tanpa perbuatan adalah mati, maka pelayanan ini adalah bukti nyata dari iman, harapan, dan kasih kita,” ungkap Yohanes.

Pengalaman Rohani

Pada sesi kedua, penekanan diberikan pada aspek spiritualitas praktis. Pelayanan liturgi ditegaskan bukan sekadar tugas teknis, melainkan sebuah bentuk pengalaman rohani dan persembahan hidup kepada Allah. Mengutip Efesus 6:7, ditegaskan bahwa pelayanan harus diarahkan kepada Tuhan dan bukan untuk kepentingan pribadi.

Senada dengan hal itu, Ambrosius Suprihanto yang mewakili DPP St. Yoseph Palembang, mengingatkan para pelayan agar menjaga kedalaman hidup doa. “Seorang pelayan altar harus akrab dengan Kitab Suci dan Ekaristi. Jangan merasa terpaksa, karena ini adalah panggilan Allah yang menuntut pengabdian total,” tuturnya.

Peserta rekoleksi merayakan perayaan Ekaristi bersama Romo Gading. | Foto: Dokumen Pribadi

Selain penguatan batin, rekoleksi juga membahas pentingnya sinergi antar-seksi dan kesiapan sarana liturgi. Memastikan kelayakan kain altar, bejana, hingga buku panduan merupakan bentuk penghormatan terhadap kemuliaan perayaan sakramen.

Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga siang hari ini ditutup dengan diskusi kelompok dan doa bersama, membawa semangat baru bagi para pelayan untuk kembali melayani umat di Paroki St. Yoseph Palembang dengan hati yang penuh sukacita.

***Andreas Daris Awalistyo (Kontributor Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.