Renungan Harian Rabu, 13 Mei 2026

Kis. 17:15,22–18:1; Mzm. 148:1-2,11-12,13,14; Yoh. 16:12-15. BcO Kis. 21:37–22:16.

Kesetiaan yang Tak Sia-sia

Saudara-saudari terkasih, di sebuah desa kecil, ada seorang ibu yang setiap hari menyirami tanaman di kebunnya dengan sabar di tengah krisis air, akibat kemarau yang tak kunjung berakhir. Suatu ketika, anaknya bertanya, “Ibu, kenapa tanaman itu tetap disiram padahal nantinya akan mati diterpa sinar matahari yang menyengat ini?” Sang ibu menjawab, “Nak, ibu tidak hanya sekedar menyiram tanaman, ibu sedang menjaga harapan agar kehidupan tidak mati di tanah ini”.

Kisah sederhana ini senada dengan peristiwa di Fatima, saat Maria hadir membawa pesan pertobatan di tengah dunia yang dilanda kekelaman perang. Seperti Santo Paulus yang mewartakan “Allah yang tidak dikenal” kepada orang-orang Athena di Areopagus, Maria datang untuk memperkenalkan kembali kasih Allah yang sering kali terlupakan oleh kesombongan manusia. Kedua orang kudus ini ingin mengajak kita untuk membuka mata batin dan mengakui bahwa di balik segala kemajuan dunia, ada Sang Pencipta yang rindu agar umat-Nya kembali ke jalan kebenaran. Kesetiaan Maria dalam menyimpan segala perkara di dalam hatinya menjadi teladan sempurna bagi kita saat menghadapi ketidaktahuan akan masa depan.

Saudara-saudari terkasih, dalam Injil hari ini, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa masih banyak hal yang harus Ia sampaikan, namun mereka belum sanggup menanggungnya. Inilah realitas iman kita; sering kali Tuhan tidak memberikan seluruh jawaban sekaligus, melainkan menuntun kita langkah demi langkah melalui Roh Kebenaran. Roh inilah yang memampukan para gembala kecil di Fatima untuk memahami pesan-pesan surgawi yang berat bagi anak seusia mereka. Seperti pemazmur yang mengajak seluruh ciptaan, dari langit sampai ke kedalaman samudera, untuk memuji nama Tuhan, kita pun diajak untuk menyatukan seluruh kecemasan dan harapan kita dalam pujian yang tulus kepada-Nya.

Memasuki penghujung Pekan VI Paskah ini, kita diundang untuk tidak lagi berjalan dalam kegelapan atau keraguan. Roh Kudus dijanjikan akan memuliakan Kristus dengan memberitahukan kepada kita apa yang diterimanya dari Allah. Kehadiran Santa Maria dari Fatima adalah pengingat konkret bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian tanpa bimbingan. Dengan hati yang rendah hati dan terbuka pada tuntunan Roh, segala yang sulit ditanggung akan menjadi ringan, dan segala yang kabur akan menjadi terang.

Saudara-saudari terkasih, mari kita jadikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, seperti Maria, yang meskipun tidak selalu memahami seluruh rencana Allah sejak awal, tetap memilih untuk percaya dan taat sepenuhnya pada kehendak-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.

Fr. Natalius Alan Dwi Putra Sihombing (Tingkat I)

Leave a Reply

Your email address will not be published.