HARI BIASA
Yeh. 28:1-10; MT Ul. 32:26-27ab.27cd-28.30.35cd-36ab; Mat. 19:23-30; BcO Pkh. 3:1-22
Melepaskan Keterikatan

Saudara-saudari terkasih, bacaan hari ini mengajak kita untuk memeriksa kembali apa yang sebenarnya menjadi dasar kepercayaan dan keamanan hidup kita selama ini. Melalui Kitab Yehezkiel, kita diingatkan tentang kisah tragis Raja Tirus yang ditegur keras karena kesombongannya. Ia merasa begitu hebat, berkuasa, dan kaya raya hingga merasa dirinya setara dengan allah dan lupa bahwa segala yang dimilikinya hanyalah anugerah titipan. Kisah ini menjadi peringatan universal bagi kita semua bahwa kesombongan duniawi sering kali menjadi awal dari kejatuhan rohani yang mendalam.
Selaras dengan hal itu, dalam Injil Yesus menyampaikan sabda yang cukup mengejutkan para murid: “Sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Melalui kalimat ini, Yesus sebenarnya tidak sedang membenci atau mempersalahkan kekayaan itu sendiri. Yang menjadi persoalan utama adalah ketika hati kita mulai melekat dan diperbudak oleh harta, jabatan, atau ambisi pribadi, sehingga kita tidak lagi bebas untuk mengikuti kehendak Allah. Harta benda akan menjadi berkat yang indah jika digunakan untuk melayani, namun ia akan berubah menjadi penghalang besar saat dijadikan sebagai pusat kehidupan kita.
Mendengar hal itu, para murid pun menjadi cemas dan bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Jawaban Yesus sungguh memberikan pengharapan baru bagi kita: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Lewat penegasan ini, kita diajak untuk sadar bahwa keselamatan dan kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari kehebatan atau usaha keras manusia, melainkan murni buah rahmat Allah. Tugas kita hanyalah menyediakan hati yang terbuka, kosong dari keangkuhan, dan selalu rendah hati untuk menerima uluran tangan-Nya.
Sebagai murid-murid Kristus, hari ini kita diundang untuk belajar hidup bersahaja dan memiliki hati yang bebas dari keterikatan duniawi. Ketika hati kita merdeka dari keterikatan ego, kita akan menjadi lebih peka mendengarkan suara Tuhan dan selalu siap berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Percayalah, apa pun kenyamanan atau ambisi yang berani kita lepaskan demi setia mengikuti Kristus tidak akan pernah berakhir sia-sia; sebab Tuhan sendiri telah menjanjikan berkat yang melimpah serta upah kehidupan kekal bagi setiap orang yang mengandalkan-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Petrus Bagul
