PF Nama Tersuci Maria
1Kor 10:14-22a; Mzm 116:12-13.17-18; Luk 6:43-49. BcO Yud 1-25.
Menjadi seperti rumah yang dibangun di atas batu

Saudara-saudari terkasih, apabila hendak membangun sebuah rumah, hal pertama yang mesti menjadi perhatian kita ialah pondasi awal dari rumah tersebut. Pondasi yang kuat dan kokoh akan menentukan kekuatan dan ketahanan rumah dalam jangka panjang. Tanpa pondasi yang baik, bangunan akan lebih mudah mengalami keretakan atau bahkan kerusakan yang dapat membahayakan penghuninya.
Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan gambaran yang sederhana tetapi mendalam. “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya… ia sama dengan seorang yang mendirikan rumahnya… di atas batu.” Rumah yang dibangun di atas batu akan tetap berdiri ketika banjir datang. Sebaliknya, rumah yang dibangun tanpa dasar yang kuat akan mudah runtuh.
Menjadi orang beriman bukan hanya soal mengetahui banyak hal tentang Tuhan. Kita dapat rajin berdoa, mengikuti Perayaan Ekaristi, membaca Kitab Suci, atau terlibat dalam berbagai kegiatan menggereja. Namun, semua itu perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata. Yesus dengan jelas mengatakan bahwa orang yang membangun rumah di atas batu adalah orang yang datang kepada-Nya, mendengarkan perkataan-Nya, dan melakukannya.
Dengan demikian, iman tidak hanya berhenti pada apa yang kita dengarkan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Sabda Tuhan hendaknya menjadi pedoman dalam setiap perkataan, sikap, dan tindakan kita, sehingga iman kita sungguh menghasilkan buah dalam kehidupan.
Saudara-saudari, semoga hidup kita sungguh menjadi seperti rumah yang dibangun di atas batu, tetap kokoh ketika diterpa badai, tetap teguh ketika menghadapi banjir persoalan, dan tetap setia berjalan bersama Tuhan dalam setiap keadaan. Dengan demikian, melalui kehidupan kita, orang lain pun dapat merasakan kasih dan kebaikan Tuhan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Aloysius Raditya Tingkat I
