Hari Minggu Biasa XXV
Yes. 55:6-9; Mzm. 145:2-3,8-9,17-18; Flp. 1:20c-24,27a; Mat. 20:1-16a. BcO Tob 1:1-22.
Kasih Tanpa Perhitungan

Saudara-saudari yang terkasih dalam pekan ketiga Bulan Kitab Suci Nasional pada Minggu Biasa ke-25 ini, Injil menggambarkan kisah para pekerja di kebun anggur dan sang pemilik kebun. Perilaku para pekerja yang dipanggil di awal hari terasa sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Tanpa disadari, kita kerap bersikap persis seperti mereka: mudah mengeluh ketika merasa ketaatan, kerajinan, dan lamanya kita melayani seolah tidak berbanding lurus dengan apa yang kita terima. Dalam hati, mungkin kita pernah berbisik, “Tuhan, aku sudah rajin beribadah dan melayani sejak kecil, mengapa hidupku seperti ini? Mengapa mereka yang tampak malas justru hidupnya lebih nyaman?”
Kecenderungan seperti ini menunjukkan betapa seringnya kita memaksakan matematika serta logika manusiawi kita pada kebijaksanaan Allah. Kita lupa bahwa anugerah keselamatan dan kasih karunia Tuhan bukanlah sistem “upah per jam” atau akumulas poin yang bisa ditukar-tambah sesuai hitung-hitungan kita. Keselamatan, rahmat, dan berkat dari-Nya adalah murni pemberian yang bersumber dari kemurahan hati Allah yang tak terbatas. Tuhan tidak pernah berutang pada kebaikan kita; sebaliknya, segala sesuatu yang ada pada kita adalah tanda kebaikan-Nya semata.
Jika berkat dan keselamatan benar-benar dihitung berdasarkan kebaikan moral maupun keringat usaha kita sendiri, kita semua justru akan “bangkrut” di hadapan Allah karena dosa-dosa kita. Oleh karena itu, bagian kita bukanlah membanding-bandingkan rahmat yang diterima orang lain dengan apa yang kita miliki, melainkan terus mensyukuri kemurahan hati-Nya. Kita diajak untuk bersyukur bahwa Tuhan yang Mahabaik masih mau memanggil kita untuk masuk dan bekerja di kebun anggur-Nya, serta memberi kita anugerah keselamatan yang sebenarnya sama sekali tidak layak kita terima.
Saudara-saudari terkasih, inilah misteri kasih karunia yang melampaui logika dan perhitungan manusia. Tuhan tidak pernah menilai martabat seseorang berdasarkan lamanya “jam kerja” atau murni durasi pelayanan, melainkan pada ketulusan hati dalam menerima panggilan-Nya. Marilah kita belajar melepaskan rasa iri dan kebiasaan membandingkan diri. Bersukacitalah atas anugerah-Nya yang cuma-cuma, dan jalankanlah setiap tugas serta pekerjaan yang dipercayakan kepada kita dengan tulus, setia, dan penuh rasa syukur. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Hendra SimbolonTingkat V
