Hari Biasa
Pkh 3:1-11; Mzm 144:1a.2abc.3-4; Luk 9:18-22. BcO Tob 7:1.8b-17; 8:5-13.
Antara Aturan & Belas kasih

Saudara-saudari yang terkasih, di tengah masyarakat modern saat ini, kita sering kali merasa seperti mesin yang dipaksa berlari tanpa henti, mengejar target demi target, dan terjebak dalam budaya mengagungkan produktivitas tanpa akhir. Sering kali kita merasa harus merespons pesan kerja hingga larut malam, merencanakan masa depan dengan cemas, dan takut tertinggal oleh cepatnya zaman.
Namun, tanpa sadar dibalik ambisi yang melelahkan itu sering kali batin kita terasa kosong dan rapuh. Dihantam oleh rasa cemas yang mendalam akan ketidakpastian hidup. Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu ada masanya: ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk mati, ada waktu untuk menanam, dan ada waktu untuk menuai. Segalanya itu adalah keindahan yang telah dibuat oleh Tuhan dan memiliki waktunya masing-masing, bukan menurut ambisi dan kendali ego kita yang sering kali serba terburu-buru.
Pernyataan Petrus dalam Injil hari ini sukses memberikan pemahaman kepada kita, bahwa Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Kisah hidup Yesus selama di dunia meluruskan bayangan duniawi tentang kejayaan instan dan sementara yang dikejar oleh manusia zaman ini, dengan Jalan Salib Tuhan. Bacaan Injil hari ini ingin mengingatkan pada kita bahwa hidup yang bermakna bukanlah tentang menghindari penderitaan, melainkan tentang penyerahan diri sepenuhnya pada waktu dan rencana Allah.
Sabda Tuhan hari ini menjadi sebuah teguran sekaligus kelegaan bagi hidup kita yang sering kali stres dan ketakutan dalam menghadapi masa depan. Waktu yang kita miliki saat ini bukanlah musuh yang harus dikejar-kejar dengan terburu-buru, melainkan suatu anugerah rahmat Allah yang sedang membentuk pribadi kita. Ketika kita terus-menerus cemas dan memaksakan kehendak pribadi kita, kita sedang menolak “waktu Tuhan” dan secara tidak langsung menolak memikul salib harian kita sebagai pengikut Kristus.
Saudara-saudari, mari kita belajar untuk menepi sejenak dari kebisingan dunia modern, membiarkan diri kita dibimbing oleh Dia yang telah merasakan sakitnya derita, namun pada akhirnya bangkit untuk mengalahkan maut dan membawa keselamatan bagi seluruh dunia. Percayakanlah segala perputaran waktu hidupmu pada tangan-Nya yang penuh kasih, sebab hanya di dalam Dia segala perjuangan hidup ini tidak akan berakhir sia-sia. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Alan Sihombing Tingkat II
