Renungan Harian Kamis, 1 Oktober 2026

Pesta St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (P)

Yes. 66:10-14b atau 1 Kor. 12:31-13:13; Mzm. 131:1,2,3; Mat. 18:1-5. BcO 1Kor 7:25-40

Pewarta yang Sederhana

Saudari-saudari yang terkasih, dalam kisah Injil hari ini Yesus mengutus ke-70 murid-Nya untuk pergi berdua-dua mendahului-Nya, ke tempat-tempat yang akan Ia kunjungi. Mengingat kisah perutusan ini, saya teringat akan pengalaman pribadi saat menerima tugas atau panggilan baru ketika melangkahkan kaki menuju tempat perutusan seperti ke Pematang Siantar. Ada percampuran rasa yang campur aduk: bahagia, takut, penasaran, sekaligus bersemangat. Sebuah perasaan yang sangat manusiawi dan sering kali sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Menariknya, Yesus tidak memulainya dengan bertanya apakah para murid sudah merasa siap atau belum. Begitu pula para murid, mereka tidak membiarkan rasa takut atau ketidaknyamanan menghentikan langkah mereka. Mereka memilih mengesampingkan kekhawatiran itu demi satu hal: kebebasan untuk taat dan berani melangkah menjalankan tugas perutusan.

Dalam Injil, Yesus juga mengajarkan tentang arti kesederhanaann yang sesungguhnya. Ia melarang para murid untuk membawa hal-hal yang tidak terlalu dibutuhkan dalam pewartaan itu. Larangan Yesus bukan tanpa dasar, sebab Ia mengutus para murid untuk mewartakan Injil, bukan diri sendiri. Dalam kehidupan di Seminari, seringkali muncul pertanyaan, “apakah penampilanku mencerminkan seorang yang layak untuk mewartakan Yesus yang sederhana itu?” Tentu menjawab pertanyaan itu memberikan pencerahan penampilan bukanlah keutamaan dalam pewartaan. Refleksi ini menyadarkan kita bahwa estetika luar atau penampilan fisik bukanlah keutamaan dalam pewartaan. Yang paling utama adalah ketulusan dan kerendahan hati untuk menghadirkan Kristus.

Gereja juga mengajak kita belajar dari sosok Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, yang diangkat menjadi Pelindung Karya Misi. Uniknya, Santa Theresia sepanjang hidupnya tidak pernah melakukan perjalanan misi jauh ke luar biara. Namun, melalui hidup doa yang tekun dan kesederhanaan yang luar biasa, ia membuktikan bahwa pewartaan Injil yang paling nyata terjadi dalam kesetiaan kita menjalani kehidupan sehari-hari secara saleh. Kita semua bisa menempuh “jalan kecil” menuju kekudusan lewat doa, tindakan kasih yang kecil, dan kebiasaan hidup yang benar sesuai semangat Kristus.

Sebagai penutup, mari kita renungkan untaian kata bermakna dari Santa Theresia: “Tuhan tidak melihat besarnya perbuatan kita, melainkan besarnya cinta yang menyertai perbuatan itu.” Semoga teladannya menyalakan kembali semangat baru di dalam hati kita untuk terus menjadi pewarta-pewarta Injil yang sederhana, di keluarga, tempat kerja, maupun di mana pun kita berada dengan dilandasi oleh cinta yang tulus. Tuhan memberkati kita semua.

Fr. Fernando Kasadei Naibaho Tingkat 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.