Renungan Harian Jumat, 16 Oktober 2026

PF St. Margarita Maria Alacoque, Perawan
Ef. 1:11-14; Mzm. 33:1-2.4-5.12-13; Luk. 12:1-7; BcO Sir 17:15-32.

Jangan Munafik

Saudara-saudari yang terkasih, sering kali kita tergoda untuk memakai “topeng” di hadapan orang lain; tampak ramah, alim, dan baik di gereja atau lingkungan rumah, padahal hati kita menyimpan rasa iri atau ketidakjujuran. Dalam kisah Injil hari ini Yesus memperingatkan para murid tentang “ragi orang Farisi”, yaitu kemunafikan. Seperti ragi yang kecil namun bisa mengembang dan merusak seluruh adonan, ketidakjujuran kecil yang dibiarkan di dalam hati lama-kelamaan akan merusak seluruh iman kita. Yesus memanggil kita untuk hidup tulus apa adanya, bukan sekadar mencari pujian manusia.
Kita mungkin bisa menyembunyikan rahasia atau kelemahan kita dari mata manusia, tetapi tidak dari Allah. Yesus menegaskan bahwa semua yang tertutup akan dibuka dan yang tersembunyi akan diketahui. Menyadari hal ini seharusnya tidak membuat kita takut secara berlebihan, melainkan mendorong kita untuk belajar jujur di hadapan Tuhan. Daripada menghabiskan energi untuk berpura-pura sempurna, lebih baik kita datang membawa segala kelemahan kita kepada Tuhan agar Dia memulihkan hati kita.
Saudara-saudari, alasan utama seseorang menjadi munafik biasanya adalah rasa takut kepada manusia, seperti takut ditolak, tidak disukai, atau dihakimi. Namun, Yesus mengingatkan agar kita tidak takut kepada manusia yang hanya bisa menyakiti tubuh fisik. Sebaliknya, kita diajak untuk takut dan hormat kepada Allah yang memegang kuasa atas jiwa kita. Ketika rasa hormat kita kepada Allah lebih besar daripada ketakutan kita akan pendapat orang lain, kita akan memiliki keberanian untuk berdiri di atas kebenaran.
Yesus menutup peringatan-Nya dengan pesan yang sangat menguatkan. Dia menggambarkan burung pipit, burung kecil yang harganya sangat murah yang tidak pernah satu pun dilupakan oleh Allah. Yesus lalu berkata, “Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Allah mengenali dan memelihara detail terkecil dalam hidup kita. Jika burung pipit saja dipelihara-Nya, apalagi kita, anak-anak-Nya.
Saudara-saudari, pertanyaan refleksi untuk kita; Apakah ada “topeng” atau ketidakjujuran yang masih saya simpan di hadapan Tuhan dan sesama? Apakah saya lebih sering takut pada penilaian manusia dibanding takut dan hormat kepada Tuhan? Sudahkah saya bersyukur dan merasa tenang karena tahu bahwa hidup saya sangat berharga di mata-Nya? Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Ignasius Seda
Tingkat 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.