Perkuat Persaudaraan dan Keteladanan Pendidik, Ratusan Guru dan Karyawan Sekolah Katolik Palembang Gelar USKUP CUP XVI 2026

Foto: Andreas Daris A

PALEMBANG – Atmosfer kebersamaan dan persaudaraan antarpendidik Katolik di Kota Palembang kembali menguat. Paguyuban Guru dan Karyawan (PGK) Sekolah Katolik Kota Palembang resmi menyelenggarakan perhelatan akbar dua tahunan, USKUP CUP XVI Tahun 2026. Kegiatan yang memadukan ajang olah tubuh, olah rasa, dan olah pikir ini dibuka oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono pada Kamis (15/10/2026) pagi di Kompleks Sekolah Xaverius Sekojo (TK, SD, SMP Xaverius 3, dan SMA Xaverius 4), Palembang.

Pembukaan kegiatan yang mengusung tema “Satu Keluarga PGK, Seribu Inspirasi Juara” juga dihadiri Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang (KAPal), Romo Yohanes Kristianto, pengurus Majelis Pendidikan Katolik (MPK) KAPal, Yayasan Xaverius Palembang, Yayasan St. Louis, Yayasan Mardi Wiyata, Yayasan Lembaga Myriam, Yayasan Dharma Ibu, dan ratusan guru serta karyawan sekolah Katolik Kota Palembang, Prabumulih dan Banyuasin ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga Sabtu, 17 Oktober 2026.

Sebanyak 300 peserta dari 13 Rayon PGK yang tersebar di wilayah Palembang dan sekitarnya, mulai dari Seberang Ulu, Sematang Borang, hingga Prabumulih dan Muara Padang, Banyuasin dipastikan turut ambil bagian.

Foto: Andreas Daris A

Ruang Perjumpaan

Paguyuban Guru dan Karyawan (PGK) Sekolah Katolik Kota Palembang adalah organisasi wadah himpunan guru, karyawan, dan tenaga kependidikan di sekolah-sekolah Katolik se-Kota Palembang. PGK berperan aktif membangun sinergi antar-yayasan dan unit sekolah, meningkatkan profesionalisme pendidik, serta menjaga nilai-nilai keutamaan Katolik dalam mendidik generasi muda bangsa. USKUP CUP XVI tidak sekadar dirancang sebagai turnamen olahraga biasa, namun menjadi panggung solidaritas, ruang perjumpaan, sekaligus wahana pembentukan karakter bagi seluruh komunitas pendidikan Katolik di Keuskupan Agung Palembang.

Dalam sambutannya Mgr. Yohanes menyampaikan bahwa, “Permainan itu khas manusiawi. Kita mempunyai keyakinan bahwa Tuhan itu ketika menciptakan alam semesta, menciptakannya dengan menata sehingga yang kacau, yang tidak teratur, yang kacau itu menjadi teratur,” ungkap Bapa Uskup.

Foto: Andreas Daris A

Ia juga menambahkan tentang keteraturan yang menjadi bagian dari dimensi teologis permainan. “Dimensi teologis dari permainan adalah adanya keteraturan yang tidak bisa dilanggar, ada ketertiban. Dalam permainan, pihak lawan adalah bagian yang tak terpisahkan dari dirinya,” tuturnya.

Hidupi Semangat Persaudaran

Ketua Pelaksana USKUP CUP XVI, St. Andreas Widyohantoro, menjelaskan bahwa kegiatan yang dimotori oleh PGK Rayon Sungai Buah ini membawa misi mendalam terkait nilai-nilai dasar pendidikan Katolik. Menurutnya, kualitas pendidikan di sekolah Katolik tidak hanya bergantung pada kurikulum akademis atau kelengkapan sarana-prasarana, melainkan juga ditentukan oleh keharmonisan, relasi, dan semangat persaudaraan para pendidiknya.

“Guru dan tenaga kependidikan adalah ujung tombak yang berinteraksi langsung dengan para murid setiap hari. Merekalah teladan nyata yang dilihat siswa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui USKUP CUP XVI, kami ingin memperlihatkan secara konkrit kepada anak-anak didik kita bahwa nilai sportivitas jauh lebih utama daripada sekadar meraih kemenangan, kerja sama tim adalah kunci utama keberhasilan, dan semangat persaudaraan senantiasa melampaui sekat-sekat kompetisi,” tegas Widyohantoro.

Rangkaian kegiatan yang telah resmi diawali dengan Technical Meeting (TM) pada Jumat, 9 Oktober 2026 silam ini dibuka secara simbolis oleh Uskup dengan memukul bola voli. Selanjutnya, berbagai tim memulai berbagai cabang pertandingan, yaitu bola voli, tenis meja, gaple, senam kreasi, vokal solo, dan rangking satu.

Sebuah Kesaksian Iman

Ketua PGK Kota Palembang, Leo Hidayat, menekankan pentingnya memaknai kegiatan ini sebagai kesaksian iman dan pelayanan di dunia pendidikan. Di tengah tantangan era digital dan perubahan zaman, para guru dituntut untuk tetap menjadi pribadi yang utuh, sehat secara fisik, tangguh secara mental, serta kaya akan rasa kebersamaan.

“Ketika para siswa melihat guru-guru mereka bersikap sportif, jujur, saling mendukung, dan tertawa bersama di luar kelas, hal itu akan menginspirasi mereka secara langsung. Inilah makna dari subtema kita, di mana kebersamaan para pendidik benar-benar melahirkan prestasi nyata, tidak hanya di dalam arena lomba, tetapi juga dalam pembentukan karakter anak didik di sekolah,” ungkap Leo.

Foto: Andreas Daris A

Panitia juga telah menyiapkan trofi dan hadiah menarik bagi para pemenang di setiap cabang perlombaan. Namun di atas semuanya, nilai tertinggi yang ingin dicapai adalah terpeliharanya rasa kekeluargaan dalam bingkai kasih dan pelayanan pendidikan Katolik.

***Andreas Daris Awalistyo (Kontributor Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.