Menggambar Peta Harapan Baru: Vikjen KAPal Tegaskan Urgensi Ekosistem Pendidikan Katolik Terintegrasi

Vikjen KAPal, Romo Yohanes Kristianto menyampaikan Orasi Ilmiah | Foto: Andreas Daris Awalistyo

PALEMBANG — Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dan kemanusiaan di Sumatra Selatan. Peringatan Dies Natalis ke-12 UKMC yang mengusung tema “Per Concordiam ad Lucem” (Melalui Harmoni menuju Cahaya) diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Musi Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, di Aula Gedung Yosep, Kampus Bangau, Palembang, Jumat (16/10/2026) pagi.

Sejumlah imam hadir mendampingi sebagai konselebran, di antaranya Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Palembang (KAPal), Romo Yohanes Kristianto, Wakil Rektor I UKMC, Romo Florentinus Heru Ismadi SCJ, Dekan Fakultas Humaniora dan Ilmu Pendidikan, Romo Agustinus Riyanto SCJ, dan Dekan Dekanat Palembang, Romo Hyginus Gono Pratowo.

Foto: Andreas Daris Awalistyo

Usai Ekaristi, acara dilanjutkan dengan laporan Rektor UKMC, Maria Yosaphat Dedi Haryanto, serta Orasi Ilmiah oleh Vikjen KAPal, Romo Yohanes Kristianto. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah II, Iskhaq Iskandar, jajaran pimpinan yayasan, dosen, mahasiswa, dan para tamu undangan.

Dalam orasi ilmiah bertajuk “Menggambar Peta Harapan Baru: Sinergi dan Harmoni Ekosistem Pendidikan Katolik demi Keberlanjutan UKMC di Tengah Era Penuh Perubahan,” Romo Kristianto mengajak seluruh sivitas akademika untuk merenungkan kembali akar sejarah pendirian lembaga pendidikan Katolik. Ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi Katolik tidak didirikan berdasar kalkulasi bisnis atau sekadar mengejar keuntungan finansial, melainkan atas dasar pelayanan kenabian untuk mengangkat martabat manusia.

“Masa depan pendidikan Katolik tidak ditentukan oleh seberapa kuat kita berdiri sendiri, tetapi oleh seberapa kokoh kita saling menopang dalam sinergi dan harmoni,” tegas Romo Kristianto.

Foto: Andreas Daris Awalistyo

Tantangan Pendidikan Masa Kini

Romo Kristianto membedah arah keberlanjutan perguruan tinggi Katolik berlandaskan dokumen Magisterium Gereja, seperti Ex Corde Ecclesiae (1990) yang menekankan dialog antara iman dan akal budi (fides et ratio), serta Gravissimum Educationis (1965) tentang pendidikan manusia secara utuh.

Ia memaparkan bahwa dunia pendidikan Katolik saat ini tengah berhadapan dengan badai tantangan yang kompleks. Penurunan jumlah siswa di tingkat dasar dan menengah mulai mengancam suplai calon mahasiswa baru, yang diperparah oleh beratnya beban administratif regulasi pemerintah serta ketatnya persaingan dengan PTN dan PTS modal besar. Di sisi lain, laju disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menuntut dosen bertransformasi menjadi mentor digital yang adaptif terhadap perilaku Generasi Z dan Alpha melalui pendekatan pastoral yang empatik. Tantangan ini kian terasa pelik akibat keterbatasan dana modernisasi serta minimnya koordinasi terintegrasi antar-yayasan Katolik yang selama ini cenderung berjalan sendiri-sendiri.

Menyongsong ARDAS V: Tahun Pendidikan

Menanggapi kompleksitas tersebut, Romo Kristianto menyerukan agar momentum perumusan Arah Dasar Keuskupan Agung Palembang (ARDAS) 2027, Tahun Pendidikan, dimanfaatkan sebagai panggilan bersama bagi wilayah Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Sebagai jawabannya, ia merancang empat langkah strategis yang saling menopang, dimulai dengan penyusunan master plan pendidikan terpadu melalui forum koordinasi lintas yayasan untuk memetakan arah 10 hingga 20 tahun ke depan. Semangat ini diperkuat melalui skema resource sharing, di mana institusi yang lebih mapan dapat membuka akses laboratorium dan kepakaran dosen bagi sekolah-sekolah di daerah.

Lebih lanjut, menurutnya untuk menjaga keberlanjutan operasional, penggalangan dana abadi digalakkan bersama alumni, paroki, dunia usaha, dan program Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK) guna membiayai beasiswa serta riset strategis. Seluruh pijakan ini dibungkus dalam kurikulum adaptif berkarakter Katolik yang memadukan kemajuan sains modern dengan nilai-nilai etika kristiani yang inklusif.

Mengakhiri orasinya, Romo Kristianto mengumpamakan sinergi pendidikan Katolik seperti sebuah orkestra. Meskipun instrumennya berbeda-beda, alunan musik yang dimainkan di bawah petunjuk Roh Kudus akan menghasilkan simfoni yang indah dan harmonis, bukan kebisingan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Musi Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono menyerahkan penghargaan | Foto: Andreas Daris Awalistyo

Selain orasi ilmiah, peringatan Dies Natalis ke-12 ini ditandai dengan pemberian penghargaan masa bakti kepada dosen dan tenaga kependidikan yang telah mengabdi selama 10 hingga 30 tahun.

Ketua Panitia Dies Natalis, Romo Yohanes Ongko Handoko, berharap perayaan ini semakin meneguhkan semangat seluruh keluarga besar UKMC untuk terus melangkah menuju keberlanjutan dan kebermanfaatan, sejalan dengan semboyan universitas: Veritas et Scientia Nobis Lumen (Kebenaran dan Ilmu Pengetahuan adalah Cahaya Hidup Kita).

***Andreas Daris Awalistyo (Kontributor Palembang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.