HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
Why. 7:2-4, 9-14; Mzm 24:1b-2, 3-4ab, 5-6; 1 Yoh 3:1-3; Matius 5:1-12a
Dipanggil untuk menjadi Kudus

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Bacaan-bacaan Suci mengingatkan kita bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dan hidup sebagai anak-anak Allah. Dalam bacaan pertama, Yohanes melihat banyak orang dari berbagai suku, bangsa, kaum, dan bahasa berdiri di hadapan takhta Allah dan Anak Domba. Mereka adalah orang-orang yang telah melewati berbagai kesulitan, tetapi tetap setia kepada Allah.
Dalam bacaan kedua, Santo Yohanes mengatakan bahwa kita disebut anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah bukan hanya nama atau identitas, tetapi harus tampak dalam kehidupan kita sehari-hari. Demikian juga dalam Injil, Yesus menyebut berbahagia mereka yang miskin di hadapan Allah, yang lemah lembut, yang murah hati, yang suci hatinya, yang membawa damai, dan yang tetap setia dalam penderitaan. Dari sini kita belajar bahwa kekudusan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi tetap memilih Allah dan melakukan kehendak-Nya di tengah berbagai keadaan hidup.
Saudara-saudari yang terkasih, ketika kita berbicara tentang orang kudus, kita sering membayangkan orang yang sejak awal hidupnya tidak pernah melakukan kesalahan. Padahal, para kudus juga manusia yang memiliki kelemahan dan pergumulan. Santo Agustinus, misalnya, pernah menjalani kehidupan yang jauh dari kehendak Allah, tetapi melalui pertobatan ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Santo Paulus juga pernah menganiaya para pengikut Kristus, tetapi kemudian dipanggil untuk menjadi pewarta Injil.
Lalu, bagaimana kita dapat mencapai kekudusan dalam kehidupan kita? Kekudusan dapat dimulai dari hal-hal sederhana: menjaga perkataan agar tidak menyakiti orang lain, belajar mengampuni, bersikap sabar, menolong sesama, berkata jujur, dan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak dilihat atau dipuji orang. Sebagai orang tua, kita dapat menjadi teladan bagi anak-anak melalui cara kita mengasihi, berbicara, bekerja, dan menyelesaikan masalah dalam keluarga. Sebagai anak dan anggota masyarakat, kita juga dipanggil untuk membawa damai dan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita.
Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah berani menghidupi jalan kekudusan dalam keseharian kita? Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulainya. Semoga Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Fr. Yohanes Kresna Kilo
Tingkat 6
