“Perjalanan rohani sebagai imam Gereja kali ini terfokus pada permenungan mengenai salah satu tugas imamat, yakni munus pascendi atau munus governandi (tugas menggembalakan). Sudah pasti, tugas ini menyatu dengan dua tugas imamat yang lain, yakni munus docendi (tugas mengajar dan mewartakan Injil) dan munus sanctificandi (tugas menguduskan). Apa yang ditulis sebagai ajaran Gereja yang mengalir dari inspirasi Sabda Allah tersebut bagi kita para imam sudah ditanamkan sejak kita dalam formatio. Dan sepanjang perjalanan imamat kita, ketiga tugas tersebut mewarnai seluruh aktivitas imamat kita,” tandas Romo Stefanus Gitowiratmo dalam pengantarnya mengawali rangkaian Retret Tahunan para imam diosesan UNIO Keuskupan Agung Palembang pada Senin (11/7) yang lalu.

Lebih lanjut Romo Gito, demikian beliau biasa disapa, menyampaikan bahwa,
“Dengan tugas mengajar, kita sebagai imam adalah pengajar (guru) rohani dan iman bagi seluruh umat. Untuk itu, kita sebagai imam diingatkan untuk akrab dengan Sabda Allah, membaca dan mengolahnya serta menyajikannya bagi umat, agar umat semakin mengenal dan mencintai Kristus dalam iman, harapan dan kasih. Dengan tugas menguduskan, kita diajak menyadari dan membatinkan nilai pelayanan imamat sebagai pembagi misteri Allah dan rahmat penebusan bagi seluruh Umat Allah. Atas nama Kristus dan Gereja, imam melaksanakan tugas suci, yakni menguduskan seluruh umat dengan perayaan sakramen terutama Ekaristi Kudus. Dan seraya menguduskan seluruh umat, para imam sendiri menghayati misteri pengudusan itu bagi dirinya sendiri”.
Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang yang saat ini berkarya sebagai Direktur Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan ini kemudian menyampaikan dasar rangkaian permenungan dan tujuan yang hendak dicapai dalam retret ini. Ia menyampaikan bahwa rangkaian permenungan dalam retret ini berdasarkan pada pertanyaan Yesus kepada Petrus yang tertuang dalam Yohanes 21:16-17. Dalam akhir dialog itu Yesus menegaskan kepada Petrus tugas yang harus ia jalankan, yaitu gembalakanlah domba-domba-Ku.

“Pendalaman dan pengolahan rohani kita dalam retret ini, kita pusatkan pada salah satu tugas imamat sebagai pemimpin umat untuk menggembalakan domba-domba Tuhan. Tugas itu bukan semakin mudah, melainkan semakin banyak tantangan di zaman kita ini,” tegasnya.
Selanjutnya, imam yang pernah berkarya di Paroki Binjai, Keuskupan Agung Medan, menyampaikan arahannya kepada para imam bahwa, “Tujuan retret ini adalah pemantapan atau peneguhan hidup imamat kita, sehingga tampak dalam ciri-cirinya, yaitu seorang imam yang bersukacita dalam tugas imamatnya dan semakin kredibel dan penuh semangat, dapat diandalkan dalam pelayanan kegembalaannya.”

Romo Gito melanjutkan penjelasannya tentang makna retret bagi seorang imam. “Retret seorang imam merupakan sebuah “moment refleksif” atas proses menjadi imam dengan mendalami konsep, penghayatan dan pelaksanaan hidup dari setiap pribadi imam. Pengalaman hidup sebagai imam pelayan dan gembala umat adalah bahan retret yang kaya raya. Dengan demikian, retret ini bukan menambah ilmu baru melainkan mengolah pengalaman tersebut secara serius. Saat itulah terjadi penegasan dan penajaman baru mengenai munus pascendi atau munus regendi atau munus governandi yang dijalankan seorang imam. Hasil akhir yang diharapkan dari momen refleksi ini ialah imam menjadi pemimpin yang bersukacita dan berbuah bagi Gereja dan masyarakat sebab para imam dipanggil Kristus untuk membawa sukacita Injili (Evangelii Gaudium) kepada umat dan masyarakat. Adanya gembala dan pelayanan umat di dalam Gereja dimaksudkan supaya umat di dalam Kristus mengalami ‘hidup dengan segala kelimpahannya’,” jelas Romo Gito.
Imam diosesan yang telah purna karya sebagai dosen di Fakultas Teologi Wedhabakti, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini juga menjelaskan bahwa kehadiran rekan imam dalam retret ini merupakan sebuah berkat tersendiri. Itulah kehadiran kolegial yang meneguhkan bahwa tanggungjawab imamat adalah tanggungjawab bersama, sehingga kehadiran sesama gembala jemaat menjadi sebuah energi positif untuk memangku jabatan pelayanan kegembalaan ini dengan keyakinan bahwa aku tidak sendirian.
“Tugas kegembalaan di tempat atau karya pastoral tertentu adalah bagian dari tanggungjawab eklesial ini untuk mewujudkan satu Gereja Kristus di keuskupan kita. Bersama rekan-rekan seimamat yang disatukan dalam diri uskup inilah kita bisa share of power and authority untuk kepentingan seluruh jemaat Allah yang kita layani,” tuturnya.

Imam yang telah lama turut ambil bagian dalam pengembangan pastoral di bidang Pendidikan dan formasi ini menegaskan bahwa keberadaan kolegialitas para imam ini adalah representasi dari kehadiran kepemimpinan dalam Gereja yang bermuara pada kesatuan umat beriman, Tubuh Mistik Kristus “yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya” (Kol 2,19).
“Kehadiran para imam dengan berbagai karunia, kompetensi, dan jenjang usia adalah jaminan kontinuitas kepemimpinan dan kegembalaan dalam jemaat. Itulah tanda bahwa Roh Kudus sedang terus-menerus membarui GerejaNya melalui tangan-tangan korps gembala umat ini,” kata Rm Gito, penulis buku Gagasan Dasar Pastoral Berbasis Data yang diterbitkan Kanisius pada tahun 2017 ini.
Rm Gito juga menegaskan kembali peran, fungsi dan tugas imam sebagai gembala di tengah umat. “Peran, fungsi dan tugas kita sebagai gembala adalah mengambil sebagian dalam seluruh proses pertumbuhan Gereja Umat Allah. Setiap imam dan tugas kepemimpinannya merupakan milestone (batu penanda) bahwa seluruh proses pertumbuhan dan kehidupan Umat Allah sedang berlangsung terus. Dan, untuk dapat seoptimal mungkin mengambil sebagian dari seluruh proses pertumbuhan Umat Allah itu, kita para imam perlu terus-menerus memberdayakan diri kita sendiri. Sikap rendah hati, kesediaan untuk membina diri dengan tekun, keterbukaan untuk berubah serta kemampuan berkomunikasi yang produktif akan ikut menentukan seberapa cepat atau lambatnya para imam dalam proses pematangan diri sebagai gembala dan kepala jemaat seturut teladan Yesus Kristus,” paparnya.
Retret Tahunan yang dilaksanakan di RPCB Matow Way Hurik, Tanjung Seneng, Lampung dan berlangsung pada 11-15 Juli 2022 ini dihadiri oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang dan 45 imam Diosesan UNIO Palembang.
Dalam kesempatan retret tersebut Romo Gito mengajak para imam untuk merenungkan beberapa materi sebagai pendalaman atas tema utama. Materi-materi tersebut adalah Tugas Kegembalaan: Pengalaman Hadir di Tengah Umat; Menemukan kembali, menggali dan membatinkan nilai Injili yang menjadi landasan serta dasar para imam menjadi gembala dan pemimpin umat; Kamu adalah gembala, hamba dan pengelola; Kepemimpinan dan Integritas.
Pada Jumat (15/7) rangkaian retret ini diakhiri dan ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Mgr. Yohanes Harun Yuwono, didampingi Romo Dominggus Koro (Ketua UNIO Palembang) dan Romo Gading Johanes Sianipar. Perayaan Ekaristi ini sekaligus menjadi tanda perutusan bagi Romo Gading yang akan berangkat memulai tugas perutusan sebagai imam misonaris ke Negara Suriname di Amerika Selatan. **
