Berani Membawa Damai dan Sukacita

Selagi hayat masih dikandung badan, kita masih memiliki kesempatan untuk membawa kegembiraan dan sukacita bagi semua orang.

Ada seorang kakek yang tua renta. Usianya 94 tahun. Namun dia tampak tidak memiliki rasa lelah. Dia masih melakukan kunjungan ke tetangga-tetangganya dengan berjalan kaki. Senyumnya yang hangat membuat mereka yang dikunjungi selalu menyambut kedatangannya dengan sukacita.

Kakek yang masih kuat berjalan kaki lima kilometer non stop itu selalu berbicara yang baik dan benar. Dalam kunjungan-kunjungannya dia selalu menyapa mereka dengan sopan. Dia tidak pernah berkata-kata kasar atau menggosipkan orang lain. Hal ini membuat mereka yang dikunjungi selalu menyambut dirinya dengan sukacita.

Foto: wallpaperflare.com

Para tetangganya menjuluki dirinya sebagai kakek sukacita. Kehadiranya membawa sukacita bagi keluarga-keluarga dan orang-orang yang dikunjunginya. Ketika ditanya tentang kebiasaannya itu, kakek tua itu berkata, “Hidup kita diciptakan untuk menyampaikan kegembiraan. Kita mesti menghidupi sukacita itu lalu menebarkannya kepada orang lain.

Prinsip kakek tua itu kemudian diikuti oleh orang-orang di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya menciptakan suatu damai dalam hidup bersama. Mereka tidak mau melakukan tindakan-tindakan yang menyakitkan bagi sesama mereka.

Meninggalkan Egoisme

Hidup dalam kegembiraan dan sukacita seperti suatu idealisme yang hanya didambakan oleh banyak orang. Namun saya yakin bahwa hal ini bisa menjadi suatu kenyataan dalam hidup bersama. Syaratnya adalah orang tidak hanya mementingkan diri sendiri. Kehendak diri ditinggalkan demi suatu kehendak bersama yang lebih tinggi nilainya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani membawa kegembiraan dan sukacita bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Kakek tua renta itu menebarkan kebaikan kepada orang-orang yang dijumpainya. Dia tidak takut. Dia memiliki prinsip untuk membawa damai bagi siapa saja yang dijumpainya. Karena itu, dia tidak mau berbicara tentang keburukan.

Kita hidup dalam dunia yang dengan mudah menodai diri dengan menceritakan hal-hal yang kurang baik dari sesamanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang merasa diri yang terbaik. Orang lain tidak memiliki peran apa-apa dalam hidup bersama. Orang terlalu mementingkan diri sendiri. Akibatnya, damai yang diharapkan sulit terjadi dalam hidup bersama.

Orang beriman tentu ingin hidup damai dan sukacita bersama orang lain. Orang tidak bergembira sendirian saja. Orang tidak mengalami damai bagi diri sendri saja. Karena itu, kita mesti meninggalkan kepentingan diri sendiri untuk mau berjuang demi kedamaian bersama. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.